Rekor Penonton, Raup Keuntungan Rp 214 Juta
Manajemen Persibo Bojonegoro bisa tersenyum lebar. Selain sukses menjinakkan Persija Jakarta di Stadion Letjen H. Sudirman senin (13/2) malam lalu, jumlah penonton juta mencatat rekor terbanyak selama Indonesian Premier League (IPL) musim ini.
Informasi yang diperoleh, dari pertandingan melawan Persija, pendapatan panpel dari penjualan tiket sekitar Rp. 214,3 juta. Dari tribun VIP, tiket yang terjual 657 lembar. Dengan harga tiket Tp.50 ribu per lembar, pendapatan panpel sekitar Rp. 32,8 juta.
Untuk penjualan tiket kelas ekonomi, terjual 12.100 lembar. Dengan harga tiket Rp. 15 ribu per lembar, panpel meraup keuntungan Rp. 181,5 juta. “Penontonnya tidak sampai 13 ribu” kata salah seorang panpel Persibo M. Subekti kemarin (14/2) sore.
Menurut dia, pendapatan penjualan tiket menjadi kewenangan manajemen LPIS. Jumlah supporter tersebut merupakan rekor terbanyak. Saat melawan PSMS Medan, jumlah penonton hanya sekitar 10 ribu orang. Jumlah itu terinci berdasarkan 619 tiket kelas VIP dan 9.200 tiket ekonomi yang terjual. Dari jumlah itu, pendapatan penjualan tiket Rp. 162,8 juta.
Subeki mengakui jumlah penonton saat pertandingan melawan Persija merupakan terbanyak selama IPL berlangsung di Stadion H. Letjen Soedirman. Menurut dia, penjualan tiket melawan Persija dilakukan pembatasan demi keamanan stadion tersebut. “Kami antisipasi agar tidak terjadi sesuatu,” katanya. (rdr)
Berita terkait:
- Denda 10 Juta Sudah Dibayar
- Panpel Persibo Bantah Kena Sanksi Komdis PSSI
- Komdis Denda Panpel Persibo 10 Juta
- Polres Tak Izinkan Persibo Tanding di Kandang
- Jelang Persibo Vs Persebaya HTM Naik untuk Hindari Overload
ngene iki nek wong ga seneng jare yo pamer/meng ada2..”moso stadion sak ipet oleh sak duit mono kae”…..ga ngertine sing mlebu mbayAr kabeh to piye….
duit sak mono kae ndahneo d nggo tuku rokok tali jagat……..
[Reply]
Ndahneo boromania dbagi truz dtuko’no drumband anyar bene suarane lbih keras
[Reply]
masih boromania Reply:
February 15th, 2012 at 6:03 pm
drumband e banter tapi suarane boromania g banter percuma mas , , , tanpa drumband seharuse boromania bisa keras suaranya , , ,
[Reply]
gedabruuus….
[Reply]
waaahhh..
alhamdulilahh..
sing g percoyo,,
monggo di tanyakan langsung ke Pak Subeki Ketua Panpel. . .
marai Pak Subeki kui yo tonggo ku..
haha
sadabe.
[Reply]
Pantas disyukuri…semoga bisa menjaga eksistensi keuangan persibo berkompetisi,stadion luar dalam sudah bagus,kondisi lapangan juga mengesankan,hanya kalau boleh kasih masukan aparat disana yang dimintai bantuan untuk menjaga pertandingan tolong komintmen sama tugas,tempat duduk penonton untuk mereka yang membeli tiket,tugas aparat adalah memastikan kondisi sekitar dan dalam stadion,tetaplah bertugas pak jangan terlalu asyik menikmati pertandingan hingga lupa tugas sebenarnya
[Reply]
seandainya stadion kita mmpunyai kpsitas lbh besar lagi, pasti keuntungan jg akan jauh lebih besar. krn animo boromania yg dtng k’stadion semakin bnyak…
tp jngan puas dulu, krn kta msh klh dg animo supporter lain di indo..
sbgai cntoh, di std kanjuruhan(arema), dg kpsitas 32.500, prnah mncatat hsl pnjualan tiket sebesar 1,2 mlyar. dg rncian tiket ekonomi 30rb, vip 75rb, vvip 100rb
[Reply]
untunge akeh tapi sayang drumb band e gak ono suarane……ngesakne boromania cah2…ditayangno tv, tp drumb band e gak enek suarane blas……………
[Reply]
Tragedi Lumpur Lapindo, Awal Mula
Kisruh PSSI
Oleh: Primata Euroasia | 07 February
2012 | 00:36 WIB
Dua sahabat itu akhirnya harus
mengakhiri cerita manis diantara
mereka. Ya, karena tragedi lumpur
Lapindo persahabatan yang dirajut
Nirwan Dermawan Bakrie (NDB)dan
Arifin Panigoro (AP) akhirnya retak.
Sudah lama kedua orang kaya di
Indonesia ini bersahabat, saling
menolong dalam beberapa
kesempatan, terutama pada olahraga
kecintaan mereka, sepakbola. Dari
persahabatan keduanya-lah sepakbola
Indonesia mengalami kejayaan. NDB
dengan pengelolaan liga senior dan
Timnas PSSI, dan AP dengan
pembinaan usia muda melalui liga
Medco, Campina yang tentunya sudah
direstui oleh PSSI saat itu.
Jebolnya pengeboran kilang minyak
milik PT. Lapindo Brantas Inc. di desa
Renokenongo, tak jauh dari sumur
Banjar Panji-1 (BJP-1) yang
mengakibatkan banjir lumpur yang
menggenangi hampir seluruh desa
merusak persahabatan NDB dan AP.
PT. Lapindo Brantas Inc. sendiri
merupakan perusahaan yang
komposisi sahamnya 50% dimiliki oleh
Bakrie grup lewat PT. Energi Mega
Persada, Medco Energi sebesar 38%
lewat PT. Medco E&P Brantas serta
sisanya dimiliki oleh grup Santos. NDB
menganggap AP lari dari tanggung
jawab dengan menjual seluruh
sahamnya saat tragedi lumpur terjadi.
Sedangkan AP beranggapan Bakrie
grup-lah yang harus bertanggung
jawab karena merupakan operator
dan pemegang saham utama.
Rusaknya persahabatan antara NDB
dan AP akhirnya merembet pada
sepakbola. Saat kedudukan NDB mulai
goyah dengan maraknya demo pada
rezim Nurdin Halid, AP muncul
dengan proyek “breakaway leage”,
meniru langkah NDB saat membuat
Galatama dulu. Hingga akhirnya
dengan membonceng gerakan
supporter, AP berhasil mendongkel
NDB dari PSSI.
NDB yang tersingkirkan rupanya tidak
terima. Baru 6 bulan menjabat, Djohar
Arifin, yang sering diidentikkan dengan
“boneka” AP mulai direcoki. NDB
memulai dengan proyek
“pembangkangan” yang menghasilkan
liga tandingan, sama seperti yang
dibuat AP. Kemudian dilanjutkan
dengan pembentukan organisasi
tandingan untuk mengkudeta
kepengurusan PSSI saat ini.
Pertarungan keduanya masih
berlanjut. Tidak mudah menebak
siapa pemenangnya. Ibarat dua gajah
bertarung, para semut yang jadi
korban. Inilah kondisi persepakbolaan
Indonesia saat ini. Ketika dua orang
kaya pecinta bola bertengkar, dengan
dalih ingin memajukan
persepakbolaan Indonesia. Para
supporter dan pemain bola yang jadi
korban, tidak bisa menikmati sistem
kompetisi sepakbola yang kondusif,
yang akan membawa kejayaan
sepakbola Indonesia.
[Reply]
@Konge : Kowe ki terahe wong endi to lek, Cemeto Koyo antv, TvOne, n Vivanews wek e @bakriemania…
BOROMANIA Tak Bisa di Provokasi, dengan cara apapun…
[Reply]
ARTIKEL TAI KOPET
[Reply]
HAHAHA DASAR MANUSIA TIDAK BERGUNA SEMUA…..SONGONG LU PADA
[Reply]
Jangan lupa zakatnya/shodakoh
[Reply]