Bara Bojonegoro

Hasil 1-1 di leg kedua lawan Persik membuat Persibo lolos ke 32 Besar setelah bermain 2-2 di Kediri pada leg pertama. Sayangnya kesuksesan menyingkirkan raksasa itu dinodai kericuhan di Stadion Soedirman, Bojonegoro.

Pertandingan dihentikan tujuh menit sebelum kelar karena menyeruaknya Persikmania ke lapangan akibat dilempari oknum suporter Persibo dari luar stadion.

Sebelum Persikmania merusak pagar pembatas dan masuk lapangan, terjadi insiden pemukulan yang dilakukan Dedi, asisten pelatih kiper Persibo, terhadap asisten wasit Winarno (Mojokerto).

“Kami tak membenarkan aksi yang dilakukan Dedi, tapi itu saya lihat karena akumulasi kejengkelan dia akibat wasit berat sebelah,” tutur Imam Sarjono, asisten manajer Persibo.

Ketua panpel, Abdul Mun’im, pun tak mau disalahkan karena pihaknya telah mengerahkan sekitar 540 personel keamanan gabungan Polri, AD, dan Satpol PP Kabupaten Bojonegoro. Namun, Mun’im tak menyangka bila jumlah penonton melebihi kapasitas 10 ribu orang.

Perseteruan kedua tim sebenarnya belum berlangsung lama. Bermula dari Turnamen Piala Bupati Trenggalek 2007, Persibo yang unggul skor di semifinal terpaksa mundur karena intimidasi Persikmania yang masuk lapangan. Panpel pun menyatakan Persik menang.

”Ketika itu kami tak mau ribut. Daripada jiwa kami terancam, kami berikan kemenangan untuk Persik. Toh itu sebuah turnamen tak resmi,” kata Imam.

“Bukan karena kami punya dendam dengan Persik. Tim mana pun kalau menghadapi lawan lebih kuat tentu motivasi berlipat. Begitu juga kami. Apalagi kami punya rekor bagus atas Persik,” ucap Bambang Sumantri, kapten tim Persibo.
(sumber : bolanews.com)

No comments yet.

Leave a Reply