Bau Busuk Tuan Nurdin

Oleh Mohammad Eri Irawan

Riwayat PSSI di masa kekuasaan Yang Terkutuk Nurdin Halid adalah riwayat tentang kebobrokan yang kian parah. Kekuasaan Nurdin adalah tipe kekuasaan yang hobi berak di sepanjang jalan sambil berkoar-koar soal kesucian diri. Tipe kekuasaan macam ini tak akan pernah kita temui di buku-buku manajemen organisasi.

Tuan Koruptor Nurdin jauh dari becus untuk mengurus sepak bola. Di masa kekuasaan (dan bukan kepemimpinan) Nurdin, tak ada prestasi yang membanggakan. Yang ada malah segudang tipu-muslihat: pertandingan penuh skenario, penalti rekayasa, mafia wasit, kerusuhan, hingga adu pukul antarpemain. Siapa yang didegradasi atau siapa yang diloloskan bisa diatur.

Jauh sebelum kompetisi rampung, tim papan atas sudah ditentukan. Sang juara sudah dilantik sebelum peluit wasit disemprit. Urusan kualitas teknik pemain, terutama di level divisi III, II, I, dan Divisi Utama, tak perlu banyak dipikirkan. Walikota, bupati, atau calon kepala daerah, atau siapa saja tokoh yang ingin tenar lewat sepak bola daerah, bisa dimenangkan timnya. Tentu saja asal urusan “administrasi” sudah dibereskan.

Tapi, yang namanya maling, mana mau dia mengaku. Kalau semua maling mengaku, bisa-bisa satu kompleks penjara penuh dengan orang-orang sepak bola kita. Wajar saja, sih, kalau berita suap dan mafia-mafia banyak mengiringi perjalanan PSSI. Lha wong juragannya saja koruptor tukang makan duit rakyat yang kesandung kasus impor gula, beras, dan minyak goreng.

Sulit untuk menyangkal adaya kisah culas dalam sepak bola kita, meski Nurdin dan antek-anteknya rajin membantah. Mengikuti pertandingan tim favorit saya, Persibo Bojonegoro, terutama di Divisi Utama musim lalu, saya merasakan betul kongkalikong itu. Persibo dihajar dan dikerjai habis-habisan. Selalu saja ada penalti aneh dan mengada-ada.

Saat itu tersiar kabar bahwa Persibo bukan tim yang diskenario masuk Liga Super. Deltras Sidoarjo adalah tim yang didesain jadi kampiun Divisi Utama. Persibo sempat dihajar Deltras lewat dua penalti konyol di babak delapan besar. Manajemen Persibo, yang sudah kerap marah-marah, saat itu kian tersulut apinya. “Wasit kurang ajar. Deltras diperkuat 14 orang, bagaimana bisa menang coba?” kata Manajer Persibo Taufiq Risnendar.

Semua orang tahu siapa sosok di balik Deltras. Penalti demi penalti yang didapat Deltras membuat Kompas menulis, “Percayalah, ’tangan ajaib’ selalu menyertai Deltras.” Tapi nasib berkata lain: Persibo jadi juara Divisi Utama setelah menekuk Deltras di laga final.

Memasuki Liga Super, Persibo tetap saja jadi bulan-bulanan. Pernyataan Pelatih Persibo Sartono Anwar soal mafia wasit malah berujung pada ancaman sanksi untuk dirinya dengan tuduhan melecehkan PSSI.

Bagi Anda yang tak sering ikut tur mengiringi perjalanan tim favorit yang selalu dikerjai, mungkin tak akan bisa menangkap perasaan saya. Saya bersama pendukung Persibo lainnya hadir di banyak kota. Untuk tur di kota yang dekat, seperti Solo atau Sidoarjo, minimal uang Rp 30.000 harus dikeluarkan. Bagi sebagian warga Bojonegoro, itu bukan jumlah kecil. Upah Minimum Kabupaten (UMK) Bojonegoro hanya Rp 825.000 per bulan atau Rp 31.730 per hari dengan asumsi 26 hari kerja. Itu berarti, untuk melihat Persibo di luar kandang, suporter yang seorang buruh dengan gaji pas UMK harus merelakan satu hari gajinya.

Saya menemui ada bapak separo baya yang rela memangkas uang makannya untuk bisa melihat Persibo bermain. Sebagian lain ada yang harus menjual ayam peliharaan dan berutang ke tetangga. Beberapa bocah membawa bekal makanan dari rumah agar tak kelaparan seusai bernyanyi di stadion. Semuanya tulus mencintai sepak bola. Semuanya ingin melihat permainan yang indah dan bersih. Tapi PSSI di bawah kuasa Yang Terkutuk Nurdin telah mematahkan cinta tulus mereka.

Bau busuk Nurdin kian meresap di hidung kalau kita sadar bahwa hiruk-pikuk sepak bola kotor ini malah dibiayai oleh duit rakyat. Saban tahun setiap klub di Liga Super menghabiskan dana sedikitnya Rp 15 miliar. Nilai itu jauh di atas pos-pos anggaran yang berhubungan langsung dengan kesejahteraan rakyat. Dari duit itulah sepak bola kotor ini dijalankan: wasit-wasit disuap, negosiasi juara dilakukan, tawar-menawar sanksi dijalankan.

Maka, kebusukan mana lagi yang hendak kau tutupi, Tuan Nurdin? Di televisi mulut busukmu bicara, “Kalau tuntutan mundur itu dipenuhi, rusaklah negeri ini.” Goblok sekali Anda! Mana mungkin rumah akan rusak kalau tikus-tikus pengganggu kita bersihkan? Justru rumah itu akan bersih, bisa kita cat dan tata ulang agar kian menawan. Rumah itu akan harum karena kotoran tikus tak lagi bertebaran, karena berak Anda, Tuan Nurdin, tak lagi berserakan.

Mohammad Eri Irawan, Boromania, tinggal di Sukorejo. Twitter: @erirawan

[Tulisan ini sudah dimuat di buletin PLAK! edisi 2, media independen terbitan pencinta sepak bola Indonesia yang beredar di seputaran Gelora Bung Karno saat timnas berlaga melawan Malaysia, Rabu (29/12/2010)]

Download Buletin Plak II