Betapa Kami Merindukan Kemenanganmu…

Pemain boleh datang dan pergi, pelatih dan manajemen juga silih berganti, tapi para suporter akan tetap setia menanti. Kami akan tetap menyisihkan tabungan, mengenakan jersey oranye, melintasi ratusan kilometer, dan bernyanyi tiada henti di dalam stadion.

Ya, barangkali sepak bola memang diawali dari kesetiaan suporter, bukan dari gelimang kejayaan sebuah klub. Sepak bola tidak dimulai dari berapa miliar rupiah kontrak dan gaji para pemain, tapi dimulai dari rasa cinta dan kesetiaan para penggemar. Miliaran rupiah kontrak dan gaji itu tak ada apa-apanya bila dibandingkan kesetiaan dan kecintaan Boromania kepada Persibo Bojonegoro.

Kita semua, para Boromania, menghayati hal tersebut di awal perhelatan Liga Super Indonesia musim ini yang terasa begitu berat bagi Persibo. Persibo belum sekali pun mereguk kemenangan. Lima kali pertandingan, tiga di antaranya partai kandang, kita hanya mampu meraup dua poin. Sungguh hasil yang jauh dari harapan.

Tapi toh kita tetap setia menanti. Kita tetap setia di pinggir lapangan, memasang spanduk raksasa, mengibarkan bendera, bertempik-sorak, meniup terompet, dan bernyanyi sampai serak.

Sebagian dari kita harus menyisihkan pendapatan, yang mungkin tak seberapa, untuk bisa membayar tiket rombongan Rp30.000 menuju Stadion Brawijaya Kediri. Bagi sebagian orang, Rp30.000 bukan duit yang sedikit. Ada yang mesti menjual ayam peliharaan, menyisihkan gaji harian, atau bahkan berutang ke tetangga.

Yang masih pelajar menyisihkan uang jajan untuk bisa membeli tiket, membeli kaus dan syal, serta membikin spanduk. Yang sudah bekerja, dengan berbagai cara menyisihkan gaji agar bisa bernyanyi bangga di dalam stadion dengan mengenakan jersey oranye.

Tujuannya hanya satu: melihat Persibo bermain cantik dan mendekap kemenangan. Hasilnya: kita kecewa.

Tapi toh kita tetap setia menanti. Saat bersua Persiwa Wamena, Minggu siang (24/10/2010) pukul 11.00, saya tiba di Stadion Brawijaya Kediri dan melihat banyak Boromania sudah berada di sekitar stadion. Makin siang makin ramai. Saat hujan deras pukul 14.00, gelombang kedatangan Boromania kian memuncak.

Banyak dari mereka yang basah kuyup karena berangkat mengendarai motor. Mereka melintasi ratusan kilometer, menembus belantara hutan di sepanjang Temayang hingga Nganjuk, mungkin dengan jalan yang tak mulus dan penuh gerowak. Ada seorang bapak bersama putranya yang baru berumur enam tahun menggigil kedinginan tepat di warung depan pintu masuk stadion. Hebatnya, tak ada yang mengeluh.

Tujuannya hanya satu: melihat Persibo bermain cantik dan mendekap kemenangan. Hasilnya: kita kecewa.

Itu cerita tentang kesetiaan Boromania, meski kesetiaan tersebut tahun ini harus dihadapkan pada kekecewaan yang bertubi-tubi. Saya kecewa, tapi saya sadar: justu dalam kondisi terjal seperti saat ini, cinta dan kesetiaan mendapat ujian yang paling sulit.

Ada satu cerita klasik tentang kesetiaan suporter di Fever Pitch karya Nick Hornby, sebuah kisah apik tentang kebanggaan penggemar kepada tim kesayangannya, sekali pun tim itu tengah dirubung kesulitan. Buku itu memenangi William Hill Sports Book of the Year 1992. Fever Pitch juga melambari pembuatan film dengan judul yang sama, film yang ditahbiskan Majalah Four-Four-Two sebagai 10 film terbaik tentang sepak bola.

Hornby menggunakan kata “keterikatan” untuk menggambarkan kesetiaan suporter kepada tim pujaannya. “Ayah mengajakku ke Spurs untuk menyaksikan aksi Jimmy Greaves menjebol gawang Sunderland hingga empat kali dan mengakhiri pertandingan dengan skor 5-1…gol-gol yang tercipta dan semua pemain dengan nama besar itu tak bisa membuatku terkesan dan kagum. Aku telah jatuh cinta pada tim lain yang menundukkan Stoke dengan skor 1-0,” tulis Hornby. Tim yang dicintai Hornby adalah Arsenal.

Arsenal, seperti tim lainnya, tak selamanya bisa mendekap kejayaan. Saat Arsenal dirundung banyak kesulitan, ia tetap setia menyaksikan pertandingan demi pertandingan. “Aku terikat dengan Arsenal…dan bagi kami tak ada ada kemungkinan lain,” tulisnya.

Banyak kelompok suporter di Inggris yang akhirnya mendefinisikan cintanya ke tim pujaan dengan kata relationship yang sebenarnya lebih lazim digunakan untuk hubungan cinta sesama manusia.

Saking kentalnya kesetiaan itu, CEO English Premier League Rick Parry pernah berkata, “You can change your job, you can change your wife, but you can’t change your soccer team….” Ya, kita bisa berganti pekerjaan, atau bahkan cerai dan kemudian ganti istri alias kawin lagi, tapi kita tak akan pernah bisa berganti tim pujaan.

Kata Rick Parry lagi, “You can move from one end of the country to another, but you never, ever lose your allegiance to your first team.” Kita, para Boromania, barangkali kini ada yang bekerja di Jakarta, Lamongan, Malang, atau Surabaya, dan bulan depan bervakansi ke Singapura atau Korea Selatan, tapi kita tak akan pernah bisa berganti tim kesayangan dan tiba-tiba menjadi LA Mania, Aremania, atau Bonekmania.

Begitulah kami setia di jalan ini, di jalan penuh liku perjuangan Persibo Bojonegoro. Di televisi kami melihat aksi memukau dan kemenangan gemilang Persipura Jayapura, PSM Makassar, Deltras Sidoarjo, atau Persija Jakarta. Tapi kami tak lantas menanggalkan jersey Persibo dan menjadi pendukung Persipura, PSM, Deltras, atau Persija.

Begitulah kami setia di jalan ini, di jalan penuh kelok perjuangan Persibo Bojonegoro. Sudah sejak di divisi antah-berantah bertahun-tahun silam kami selalu hadir di pinggir stadion, menyanyi sampai parau dan kering tenggorokan.

Saat berulang kali dihajar wasit di divisi utama musim lalu, kami tak henti-hentinya memompakan semangat. Boromania menembus jalanan dari Bojonegoro ke Sidoarjo, meski kami ditimpuki batu entah oleh siapa di sepanjang Lamongan. Kami melintasi hutan dari Bojonegoro ke Solo, meski jalanan berkelok dan hujan kerap mengguyur.

Kami sadar, perjuangan bukan seperti sebentang garis lurus di peta. Tak ada yang mudah, tapi kami tak pernah dan tak akan pernah jera.

Kami hanya ingin pelatih dan para pemain paham satu hal: betapa kami merindukan kemenangan itu…

Mohammad Eri Irawan, Boromania, tinggal di Sukorejo.
Twitter: @erirawan