Euforia setelah Persibo Lolos ISL dan Juara Divisi Utama (2)

Presiden Boromania Menangis, Pasoepati Sempat Mengancam
Suporter menjadi salah satu unsur yang ikut mendukung sukses Persibo menjadi juara divisi utama musim ini sekaligus lolos ke Indonesia Super League (ISL) musim depan. Kelompok supporter Boromania hadir saat dibutuhkan.

Begitu drama adu penalti laga final divisi utama, Persibo Bojonegoro melawan Deltras Sidoarjo berakhir, kelompok suporter Boromania tak beranjak pulang. Mereka tetap berada di Stadion Manahan Solo untuk bernyanyi dan berjoget menyambut keberhasilan Persibo menjadi jawara divisi utama musim ini.

Puluhan anggota Boromania yang tak bisa menahan kegembiraan lalu nekad turun ke lapangan hijau. Mereka melewati hadangan sebagian polisi. Puluhan suporter itu berlari menghampiri para pemain yang masih merayakan kemenangan di lapangan. Melihat aksi tersebut, ratusan aparat polisi yang disiagakan berbaris rapi lengkap dengan tameng dan pentungan. Mereka menghadap ke arah penonton untuk mencegah tidak masuk lapangan.

Sementara Presiden Boromania Basar yang semula duduk di tribun VVIP berjajar dengan Kapolda Jawa Tengah serta petinggi PSSI dan Badan Liga Indonesia, ikut berlari turun, menghampiri pemain dan ofisial tim yang masih berjingkrak. Dari arah berbeda, muncul Dirijen Boromania Yayak dan Ketua Harian Boromania Jasmo.

Basar yang memiliki badan tegap dan besar tak kuasa membendung air mata. Dia memberikan ucapan selamat kepada pemain, manajemen, dan pelatih Persibo dengan mata berkaca-kaca. Tak lama setelah itu, dia terlihat duduk sambil terdiam. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya.

“Ini arti dan hasil dari semua cobaan yang kita lewati dan saya belum percaya kalau Persibo bisa jadi juara,” kata Basar beberapa saat kemudian sambil menggeleng-gelengkan kepala tanda masih belum percaya.

Dia menceritakan, banyak sekali rintangan yang harus dilalui menuju tangga jawara musim ini. Jasmo menuturkan, saat seluruh masyarakat bersatu mendukung Persibo, maka apapun akan diberikan. “Seperti saat ini, apapun yang sudah dan akan terjadi kami tetap berangkat dan mendukung Persibo,” ujarnya.

Laga final nyaris tanpa dihadiri Boromania. Kelompok suporter Pasoepati Solo sempat hendak melarang Boromania karena di laga semifinal sebelumnya atributnya tak hanya oranye. Namun, bercampur warna hijau. Padahal, saat itu Boromania sudah siap memberangkatkan banyak bus. “Kalau sampai dilarang tentu memberitahu mereka yang sudah mendaftar akan menimbulkan masalah sendiri karena banyak yang kecewa,” katanya.

Melalui rapat Boromania, akhirnya diputuskan mengirim utusan ke Pasoepati guna memberikan penjelasan terkait masalah sebelumnya. Dari hasil pertemuan itulah Boromania diizinkan datang ke Solo meski dengan beberapa syarat. “Intinya adalah kami datang dengan damai dan bersaudara,” ujarnya.

Perasaan pesimistis Boromania bisa total mendukung Persibo pernah dirasakan Ebit, salah satu korlap, saat menjelang babak delapan besar melawan Persipasi Bekasi di Sidoarjo. “Sampai dengan malam hari menjelang pertandingan, kami hanya dapat empat bus sementara pendaftar mencapai lima ribu orang lebih,” kenangnya.

Ternyata, bantuan datang dari manajemen Persibo dan pihak-pihak lain yang rela memberikan bantuan bus. Jumlah bus yang dikerahkan bertambah seiring kemenangan Persibo melawan Persipasi. “Dibandingkan tur-tur sebelumnya, saat ini bisa dibilang paling besar dan paling banyak,” katanya. (*/yan/jpnn/TONNY ADE IRAWAN-Bojonegoro)