Gusnul Yakin : Antara PNS, Pegawai, dan Sepak Bola

Ada sisi lain yang tidak banyak diketahui publik mengenai pelatih sepak bola Gusnul Yakin. Suami Sustin Tiani itu merasakan perang batin untuk terus berkiprah di olahraga paling populer sejagat tersebut.

Sebagai manusia yang memiliki sisi pragmatis, Gusnul berkali-kali berada dalam persimpangan jalan antara terus berkarir di sepak bola atau memilih jalur lain. Setidaknya, ada tiga momen yang membuatnya harus berpikir keras untuk menentukan pilihan tersebut.

Ujian pertama dialami saat berkarir di Gajayana Malang pada 1977. Sambil bermain bola, pria asli Malang itu juga berprofesi sebagai pegawai tidak tetap di Pemda Kota Apel tersebut. Di tengah kecenderungan masyarakat yang mengagungkan profesi pegawai negeri sipil (PNS), dia berpikir untuk menetapkan hati di karir itu. Namun, karena tidak ujung diangkat, dia akhirnya memilih untuk tetap di sepak bola.

Rayuan serupa didapat ketika memperkuat Warna Agung pada 1979-1987. Saat itu, dia merangkap menjadi pegawai perusahaan sponsor klub, Decolit. Saat itu, dia merasa menemukan titik kenyamanan menjadi pegawai dalam detik-detik akhir karirnya sebagai pemain. Karena mungkin jalan hidupnya adalah sepak bola, tetap saja ada orang yang terus mengusiknya untuk tetap di jalur sepak bola.

“Saya terus didesak Endang Witarsa (pelatih Warna Agung saat itu) untuk membantunya. Dia terus meyakinkan saya mampu menjalani karir baru sebagai pelatih,” ungkapnya. Terus mendapat suntikan, Gusnul akhirnya memutuskan untuk bersedia mengawali karir kepelatihan di Warna Agung dengan menjadi asisten Endang Witarsa pada 1988. “Jadi, mungkin jalan hidup saya memang di sepak bola,” tuturnya.

Ujian paling berat dijalani saat menangani Pupuk Kaltim pada 1999-2001. Dia menderita sakit parah di punggung sehingga memutuskan mundur. Karena sakit itu, dia menghilang dari dunia sepak bola selama tiga tahun, 2001-2003. Menurut diagnosis dokter, ada otot punggung yang tertarik sehingga membutuhkan operasi.

“Yang membuat saya kaget adalah dua kemungkinan yang disampaikan dokter. Dia mengatakan ada kemungkinan sembuh, tetapi sangat mungkin juga gagal dan berakibat pada kelumpuhan,” kisahnya. “Saya membayangkan karir kepelatihan saya telah berakhir. Punggung saya itu sakit untuk jalan, duduk, dan tidur,” tambahnya.

Bermodal sisa semangat yang ada, Gusnul terus mencari pengobatan alternatif untuk menyembuhkan sakit yang dideritanya itu. Puluhan tabib didatangi. Dia pun sampai pada tahap akhir yang menentukan karir kepelatihannya. Saat akan mengikuti kursus lisensi A AFC di Jakarta, dia mendapat pengobatan alternatif mujarab.

“Kebahagiaan yang sangat luar biasa. Itu adalah kehendak Allah. Hanya dengan sejenis minyak, kemudian dioleskan ke punggung saya, sakit itu hilang. Sampai sekarang, tidak pernah kambuh lagi. Akhirnya, saya bisa mengikuti kursus itu dengan baik,” ujarnya.

Hasilnya juga luar biasa. Dia selalu sukses memegang tim setelah kesembuhan tersebut. Tiga tim terakhir yang dipegangnya, yakni Persiba Balikpapan, Persiter Ternate, dan yang terakhir Persibo Bojonegoro, mampu naik kasta ke Divisi Utama. (pen)
(sumber : Indopos)

No comments yet.

Leave a Reply