Jelang Final Divisi I Musim 2007

Berebut Gelar di Saat Tak Nyaman
Hari ini, di Stadion Manahan, Solo, bakal dimulai perebutan gelar juara Divisi I musim 2007. Empat tim -Persibo Bojonegoro, PSP Padang, Persikad Depok, dan Mitra Kukar- akan berpacu menjadi yang terbaik.

RABU 16 Agustus 2006. Di waktu itulah Persebaya Surabaya bentrok dengan Persis Solo dalam partai final Divisi I musim 2006 di Stadion Brawijaya, Kediri. Hasilnya, Green Force -julukan Persebaya- sukses menahbiskan diri sebagai juara setelah menang dengan skor 2-0 berkat gol Nova Ariyanto dan Ever Barientos.

Prestasi Persebaya memang pantas dibukukan dalam sejarah sepak bola Indonesia. Tapi, ada hal lain yang juga tidak boleh dilupakan. Laga final Persebaya kontra Persis kala itu terjadi dalam kondisi yang sangat tidak nyaman. Kedua tim berjuang di tengah-tengah inkonsistensi PSSI.

Menjelang partai final, PSSI mengumumkan bahwa tim yang promosi ke Divisi Utama tidak hanya empat sesuai dengan regulasi. Ada delapan tim yang naik kasta dari Divisi I. Di samping itu, otoritas sepak bola nasional tersebut juga menghapus degradasi Divisi Utama.

Bayangkan, betapa terlukanya Persebaya dan Persis waktu itu. Perjuangan dan miliaran rupiah yang mereka habiskan ternyata tidak berbanding lurus dengan penghargaan dari PSSI yang begitu mudahnya mengubah regulasi.

Kondisi musim lalu ternyata kembali terulang tahun ini. Sepekan menjelang babak semifinal Divisi I yang dihajat hari ini di Stadion Manahan, lagi-lagi PSSI menabur benih inkonsistensi. Lewat suara sang Ketua Umum Nurdin Halid, PSSI mengutarakan wacana perubahan format Divisi Utama musim 2008.

Sangat mungkin tidak hanya delapan tim, yang promosi ke Divisi Utama sesuai dengan Manual Liga Indonesia (MLI) 2007. Bisa jadi, ada 16 sampai 18 tim Divisi I yang mendapatkan tiket promosi.

“Perjuangan kami sangatlah berat. Biaya yang kami keluarkan juga tidak kecil. PSSI seharusnya konsisten. Seharusnya, mereka membuat aturan sebelum kompetisi jangan di saat seperti ini,” ujar Gusnul Yakin, pelatih Persibo.

Kekecewaan itu sepatutnya. Upaya untuk menggenggam tiket semifinal sekaligus promosi ke Divisi Utama memang tidaklah mudah. Setiap tim harus melewati tidak kurang dari 15 pertandingan. Dalam kurun waktu itu, tekanan demi tekanan terus saja mengalir. Baik itu yang datang dari pihak lawan atau berasal dari internal yang berwujud tuntutan kemenangan.

“Demi kebanggaan untuk sementara, kami mengesampingkan terlebih dulu wacana yang ada. Kini kami konsentrasi dulu untuk merengkuh juara,” ucap Gusnul.

“Kami tidak ambil pusing dengan wacana penambahan tim promosi ke Divisi Utama. Yang terpenting adalah rasa bangga bisa lolos sesuai dengan atauran Manual Liga saat ini,” sambung arsitek Mitra Kukar Mustaqim.

Meski terlihat acuh dengan wacana PSSI, sejatinya ungkapan tersebut bak sebuah simbol kekecewaan karena perjuangan Mitra Kukar seakan terkebiri dengan munculnya wacana perubahan format Divisi Utama musim depan itu.

“Apa pun kondisi yang ada saat ini, kami memilih konsentrasi kejar juara. Kans itu ada bagi kami,” tutur Mustaqim.

“Seharusnya memang sesuai dengan aturan. Tapi, terserah PSSI mau mengambil keputusan apa. Yang penting kami fokus di lapangan dengan menghilangkan semua pikiran di luar lapangan,” sahut Yusman Kasim, ketua umum PSP Padang. (miftahul faham syah)
(sumber : Indopos)

No comments yet.

Leave a Reply