LPI dan ISL

Oleh : Muhammad Dimas Gilang Fajar Alfarizi

Sekarang yang menjadi trending topic di banyak media masa adalah perdebatan antara LPI dan PSSI (dengan kompetisi ISLnya). Saya hanya ingin mengkaji dari beberapa sisi kompetisi itu berdasar pada semua statement yang sudah dikeluarkan berbagai pihak termasuk PSSI itu sendiri yang saat ini bisa dibilang ‘kebakaran jenggot’.

Mungkin yang paling mencolok disini adalah dari sisi pendanaan. Selama ini ISL sebagai level tertinggi kompetisi¬† Indonesia di bawah naungan PSSI di awal launching gembar-gembor menuju “Liga Profesional”. Setahu saya, yang namanya liga profesional, kita bisa berkaca kepada liga-liga eropa yang sudah termashur. Sebut saja BPL (Barclays Premier League), Liga Spanyol, Liga Italia, dsb. Apakah klub-klub disana menggunakan dana APBD seperti ‘hampir seluruh’ klub di ISL? TIDAK!!! Klub-klub disana bisa berdiri sendiri dengan sokongan dana dari sponsor yang mereka cari sendiri dan mereka kelola sendiri. Apabila ada profit, itu juga masuk kantong klub itu sendiri. Bandingkan dengan yang ada di ISL, memang pada awalnya sebuah tim harus membentuk sebuah Perseroan Terbatas (PT) untuk mengikuti kompetisi tersebut, dan seharusnya pendanaan klub yang sudah merubah diri menjadi PT harusnya bisa mandiri tanpe membebani uang rakyat. Namun yang terjadi di ISL, dana APBD masih menjadi nyawa bagi klub-klub tersebut. Mari kita bandingkan dengan konsep manajemen keuangan yang ditawarkan LPI, sebuah klub diberikan modal awal, dana tersebut dikelola sendiri untuk memenuhi kebutuhan tim tersebut, seluruh profit yang didapat masuk ke kantong klub itu sendiri.

Masih mengenai pendanaan, kita lihat dari sisi sponsor. Selama ini sebuah perusahaan rokok besar menjadi sponsor utama ISL, dana yang dikucurkan melalui PSSI tidak didrop ke klub-klub, bahkan hanya untuk pencairan sebuah hadiah juara (yang saya tahu disini kasus hadiah Persibo Bojonegoro) itupun ditunda-tunda dengan alasan yang kurang jelas.

Sekarang dari sisi materi pemain. Permainan dan kolektivitas tim akan terbentuk jika antara satu pemain dan pemain lain sudah sering bermain bersama dalam jangka waktu yang tidak singkat. Selama ini, yang namanya penggunaan APBD dipastikan turun per tahun dan jumlahnya pun tidak pasti. Maka dari itu, selama ini klub ISL tidak pernah mengontrak seorang pemain atau bahkan pelatih lebih dari 1 tahun. Ini jelas akan mempengaruhi kualitas kompetisi dimana permainan sebuah tim belum bisa terorganisir. Mari kita bandingkan dengan konsep yang ditawarkan LPI, seorang pelaku di lapangan bisa dikontrak untuk beberapa tahun ke depan, sehingga diharapkan kolektivitas sebuah tim akan terbentuk, yang pada akhirnya akan berujung pada sebuah kompetisi yang berkualitas.

Yang menjadi berita paling hangat saat ini di media adalah kenapa PSSI begitu kelabakan dengan adanya LPI? Toh kalaupun itu berjalan beriringan itu tidak akan menjadi masalah. Yang disesalkan adalah sebuah statement dari PSSI adalah “setiap pemain dan pelatih serta wasit yang berlaga di LPI akan dihukum secara tegas dan dicabut lisensinya“. Padahal di Indonesia pun dulu pernah ada dua kompetisi yang berjalan beriringan yaitu di era Galatana dan Perserikatan. Dan yang paling disesalkan adalah sebuah statement bahwa “semua pemain yang berlaga di LPI tidak memiliki hak bermain untuk Timnas Indonesia“. Kalaupun pada akhirnya seorang pemain berkewarganegaraan Indonesia hasil kompetisi LPI ditransfer oleh sebuah tim eropa macam Barcelona atau Man United, apakah PSSI tetap kekeuh tidak memanggil pemain tersebut? Bagaimana nasib seorang Irfan Bachdim (IB#17 Indonesia) dan Kim Jeffry Kurniawan yang memiliki masa depan cerah bagi persepakbolaan nasional tapi memilih bergabung bersama Persema di LPI?

Yang menjadi pertanyaan besar ialah kenapa PSSI begitu kebakaan jenggot dengan adanya LPI? Kalau pada akhirnya itu untuk kemajuan sepakbola di Indonesia, kenapa harus ditentang? Seharusnya PSSI tidak tutup mata tutup telinga dalam menyikapi langkah positif pihak lain yang ikut turut serta membangun industri sepakbola Indonesia. ISL tidak harus bubar dengan adanya LPI, dan LPI juga tidak seharusnya ditentang.

Sekarang Persibo sudah menyatakan sikap memilih LPI sebagai kompetisi yang diikuti. Pertanyaan besar bagi kita pecinta Persibo, mampukah masyarakat Bojonegoro bersiap menyambut sepakbola modern yang ditawarkan LPI?

Mari kita buka mata, buka telinga. Berikan penilaian secara objektif. Mana yang lebih baik, masyarakat yang menentukan.

identitas penulis:

twitter : @dimasalfarizi – Boromania – Mahasiswa IT Telkom Bandung