Melihat Pembubaran Tim Persibo Bojonegoro

Minta Mencontoh MU, bukan Real Madrid
Kemarin (16/6), secara resmi tim Persibo Bojonegoro musim 2008/2009 dibubarkan. Pembubaran dilakukan secara sederhana dalam jamuan makan siang yang digelar Bupati Bojonegoro Suyoto di rumah dinas bupati.

Matahari bersinar cukup terik karena tepat berada di atas kepala di halaman kantor Pemkab Bojonegoro kemarin. Saat itu, masih jam kantor dan banyak pegawai maupun masyarakat umum yang berlalu lalang dengan berbagai keperluan di kantor yang berada di Jalan Mastumapel Bojonegoro tersebut.

Di tengah kesibukan kantor dan sengatan panas matahari, sebuah bus mini dengan dominasi warna biru masuk ke halaman kantor pemkab. Saat itu, belasan orang dengan mengenakan seragam training oranye dan mencolok turun dari bus. Mereka kemudian bergerombol dan masuk ke ruang makan rumah dinas bupati yang berada di belakang pendapa Malowopati.

Mereka lantas dengan tertib duduk di kursi yang mengelilingi beberapa meja dengan tertib. Itulah rombongan tim Persibo yang kemarin diundang secara khusus oleh Bupati Bojonegoro Suyoto. “Ayo makan dulu saja,” kata seseorang yang datang paling akhir dan mengenakan baju hitam-hitam. Dia adalah Bupati Suyoto.

Setelah mengambil hidangan yang disediakan secara prasmanan, bupati kemudian mengambil duduk bersama para manajemen. Baru setelah makan siang, acara seremonial dan sederhana digelar.

Yang pertama memberi sambutan adalah Manajer Persibo Bojonegoro Letkol Inf Dadang Hendrayudha. Dia menceritakan tentang Persibo yang mengakhiri babak delapan besar Copa Indonesia dengan hasil seri 2-2 melawan Sriwijaya FC. Baru setelah itu giliran tim Persibo bicara.

Saat itu, Pelatih Persibo Sartono Anwar angkat berbicara. Dia menyatakan tim Persibo adalah tim yang hebat. Meski memiliki keterbatasan, dibandingkan dengan tim-tim lain, Persibo tergolong mempunyai kekuatan lebih. “Apalagi semua pemain cukup kompak, meski perjalanan kompetisi kali ini lebih panjang dibandingkan kompetisi sebelumnya,” kata Sartono.

Selang beberapa saat, Suyoto mendapat giliran bicara. Suyoto sangat bangga dengan tim Persibo. Bahkan, dia mengaku sering menjadikan pemain bola sebagai contoh agar orang lebih bersemnagat mencari pekerjan lain selain pegawai negeri sipil (PNS). “Kepala dinas saja pendapatan selama setahunnya hanya Rp 50 juta. Tapi, bagi pemain Persibo seperti Samsul Arief, setahun lebih dari 100 juta,” terangnya.

Karena itu, dia berharap ke depan pemain lokal Persibo lebih menojol lagi. Dia kemudian meminta manajemen untuk mencontoh tim Manchester United (klub Inggris), bukan pada Real Madrid (klub Spanyol). “Manchester United itu mampu mencetak pemain dan pasti mahal serta penuh prestasi. Sementara Real Madrid membeli pemain dan prestasinya nggak seberapa,” pesannya.

Suyoto juga minta agar pemain yang musim depan tidak dikontrak lagi oleh Persibo, tetap bangga karena pernah memperkuat Persibo dengan prestasi tinggi. Khusus untuk Varney, dia siap memberi KTP jika memang dia menikah dengan gadis asal Bojonegoro.

“Bagaimana Varney kalau suatu saat nanti anda menyatakan bangga pernah memperkuat dan tinggal di Bojonegoro?” tanya Suyoto.

Mendegar hal itu Varney langsung menyatakan siap dan kemudian tertunduk, sambil menutupi mukanya. Cukup lama Varney terdiam. Setelah cukup lama, baru dia kembali menatap bupati yang masih terus berbicara.

Suyoto siap memberikan dukungan kepada Persibo. Dia mengungkapkan, selama ini dirinya selalu mendukung penuh, meski mengambil jarak agar Persibo tidak tercampur dengan politik. “Karena saya ditunjuk manajer untuk membubarkan tim, maka akan saya lakukan. Saya hanya mewakili warga Bojonegoro dan saya ucapkan terima kasih atas perjuangan Persibo selama ini,” imbuhnya sambil mengakhiri bicaranya. (ade/jpnn)