Mochammad Irfan, Pemain Kesayangan Boromania

Terpikat Sartono, Lebih Dikenal dengan Nama Densus
Tidak bisa dimungkiri, nama Sartono Anwar di kancah persepakbolaan Indonesia telah mengakar kuat. Pelatih yang telah malang melintang selama 35 tahun itu punya gaya melatih sendiri. M. Irfan adalah salah seorang pemain yang nge-fans berat pada gaya pelatih asli Semarang tersebut.

Jika dilihat sekilas, sebagai pemain berposisi gelandang, postur tubuhnya bisa dibilang cukup kecil. Namun, keraguan itu akan langsung tertepis saat melihatnya bermain di lapangan.

Gaya permainan yang ulet dan tak kenal lelah dalam mengejar bola membuat para suporter menyukainya. Gelandang Persibo Bojonegoro M. Irfan itu memang menjadi pemain kesayangan Boromania, suporter Persibo.

Setiap kali pemain berkepala plontos tersebut menggocek bola, para Boromania selalu berteriak, “Densus, Densus.” Gaya mainnya mirip para Densus 88 (detasemen khusus milik Polri) dalam menyergap teroris. Cepat dan penuh tenaga. “Satu lagi, potongannya mirip anggota yang berkepala plontos,” kata Ketua Divisi Tur Boromania Ebied.

Irfan mengaku sangat tersanjung memiliki julukan tersendiri. “Sampai-sampai, semua teman tim memanggil saya Densus, bukan Irfan lagi,” ucapnya lantas tertawa.

Dengan julukan khusus tersebut, pemain kelahiran Tegal, Jawa Tengah, itu semakin merasa betah berada di Persibo. Sebenarnya, hal utama yang membuat dirinya nyaman berada di Persibo adalah sang pelatih Persibo Sartono Anwar. “Saya merasa sreg dengan gaya melatih Pak Sartono yang keras, disiplin, dan penuh rasa kekeluargaan,” ungkap pemain berusia 28 tahun tersebut.

Irfan menyatakan sangat mengenal gaya kepelatihan Sartono. Sejak 2002, saat masih berkostum PSIS Semarang, dia sudah merasakan tangan dingin pelatih berusia 63 tahun tersebut. Saat itu, Sartono lebih keras dalam melatih anak didiknya daripada saat ini.

“Telat lima menit dalam sesi latihan, bisa-bisa tidak dimainkan dalam pertandingan selanjutnya,” ujar sarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes) tersebut.

Karena itulah, ketika mendapat tawaran dari Sartono untuk bergabung dengan Persibo pada awal musim 2009-2010, tanpa pikir panjang mantan penggawa PSIM Jogja tersebut langsung mengiyakan. Padahal, pada saat bersamaan, Irfan mendapat tawaran untuk bergabung dengan dua klub ISL (Indonesian Super League).

“Bagi saya bukan masalah berlaga di ISL atau Divisi Utama. Yang penting bagi saya adalah saya merasa nyaman di klub tersebut,” tegas suami Nani Isnaini itu.

Pilihannya untuk bergabung di Persibo bersama Sartono memang tepat. Pria yang gemar membaca itu menemukan gaya permainannya kembali.

Penggemar sambel goreng tempe tersebut mengungkapkan, ketika bermain bersama Persijap Jepara di ISL 2008/2009, dirinya merasa tidak nyaman. Gaya kepelatihan Junaidi dirasa kurang cocok. Walau dibebaskan dalam mengkreasi serangan, Irfan tetap merasa ada batasan.

“Kurang tahu ya, pelatih yang tidak bisa menggarap potensi saya atau saya yang kurang bisa beradaptasi dengan tim?” katanya.

Karena itu, di Persijap, Irfan jarang mendapat kesempatan tampil. Kini, setelah merasa mapan dengan Persibo, mantan penggawa tim sepak bola PON 2004 Jawa Tengah tersebut merasa ogah pindah. “Pak Sartono membuat tim ini begitu kondusif. Lihat saja, selangkah lagi kami bisa berlaga di ISL,” tegasnya.

Karena itu, pemain kelahiran 1 Januari tersebut bertekad mengantarkan Persibo ke ISL musim 2010-2011. “Untuk Boromania dan Pak Sartono, saya rela melakukan apa pun,” ucapnya.

Sementara itu, Sartono juga merasa Irfan merupakan salah seorang pemain yang bisa diandalkan. “Dia tipe pemain yang selalu fight. Saya senang dengan pemain berkarakter seperti itu,” bebernya.

Karena itulah, Sartono selalu memasukkan nama Irfan dalam pemain utamanya musim ini. (*/c5/diq/diar candra, Sidoarjo)