Persibo Cemaskan Wasit Nakal

Trauma dengan beberapa wasit yang dinilai tidak fair, jajaran manajemen Persibo Bojonegoro mulai mencemaskan kepemimpinan wasit yang akan bertugas di babak semifinal.

Persibo menilai partai melawan Persiram Raja Ampat di semifinal Divisi Utama Liga Indonesia di Stadion Manahan Solo 27-28 Mei menjadi pertaruhan fair play pertandingan sepak bola di Indonesia.

“Wajar saja kalau kami cemas. Sebab, beberapa pertandingan yang sudah dijalani oleh Laskar Angling Dharma benar-benar merugikan,” kata Manajer Persibo Bojonegoro, Letkol Inf Taufiq Risnendar, kepada beritajatim.com, Senin (24/5/2010).

Dikatakan, jika sebenarnya Persibo tidak mempermasalahkan tim mana yang akan dihadapi. Sebab, tim yang lolos ke semifinal semuanya bagus dan layak diperhitungkan.

“Mungkin hanya Persibo saja yang tidak dianggap, karena tidak memiliki apa-apa dalam faktor non teknis,” terangnya merendah.

Oleh karena itu, ia meminta PSSI maupun wasit yang memimpin pertandingan harus mempunyai hati nurani. Sebab, dalam permainan kalah menang itu biasa.
“Kalau kami main jelek, kalah tidak apa-apa. Namun, saat main benar dan bagus, jangan dipaksa dikalahkan dengan faktor non teknis,” tegasnya.

Menurutnya, pertandingan semifinal di Solo akan menjadi pembuktian kredibilitas wasit sebagai pengadil di lapangan. Jika masih tetap seperti dua pertandingan terakhir yang sangat buruk, maka itu bisa menjadi muka secara keseluruhan wasit di Indonesia.

Ditanya mengenai apakah semua tuan rumah atau tim yang dibela oleh oknum di PSSI seperti itu ? Taufiq yang juga menjabat sebagai Ketua Pengcab PSSI Bojonegoro itu menjelasan, kalau semua tuan rumah tidak mesti bersedia dibela oleh wasit.

Sebab, sejak lama dirinya telah mengajarkan kepada berbagai pihak untuk bermain fair play. Semisal saat menjadi tuan rumah, sebelum pertandingan ia telah meminta kepada perangkat pertandingan untuk menjalankan tugasnya dengan baik.

“Kami minta jangan sampai tuan rumah dibantu. Sebab, itu akan menciderai pertandingan yang bersih,” tambahnya.

Pihaknya juga telah meminta kepada pemain maupun pelatih untuk melakukan pertandingan dengan benar, tanpa harus mengharapkan bantuan dari pihak-pihak lain.

“Sebab, sepak bola itu yang dinilai permainan di lapangan. Bukan, bantuan dari luar lapangan,” tegasnya.

Namun, pihaknya juga mendengar adanya informasi tim-tim yang dikehendaki untuk lolos ke Indonesia Super League (ISL) musim depan. “Namun, kami malas membicarakannya. Sebab, pembuktiannya memang sulit dan informasi itu telah menjadi rahasia publik,” lanjutnya. (dul/bjo/beritajatim.com)