Persibo, Kisah Perlawanan terhadap Kemustahilan

Oleh Mohammad Eri Irawan, Boromania, tinggal di Sukorejo, Bojonegoro

Money doesn’t play football (Hristo Stoichkov)

Persibo Bojonegoro berhasil menggenggam gelar juara Liga Joss Indonesia. Sebuah kisah yang menyelamatkan sepak bola dari bahaya menjadi kebusukan abadi.

* * *

Sepak bola Indonesia telah dikafani. Saya, dan mungkin sebagian dari Anda, cemas mendengar berita buruk itu. Kabar kematian sepak bola ini memang sudah jadi rahasia umum karena serakan kecurangan yang panjang dan lebar. Musim ini, rangkaian kecurangan seolah menemukan puncak urakannya, semakin telanjang dan terus-terang. Kita menghadapi musuh yang mustahil dikalahkan: mafia PSSI.

Tipu muslihat berjejer: pertandingan yang diskenario, penalti rekayasa, peluit wasit yang tak lagi berguna. Jauh sebelum kompetisi rampung, tim-tim papan atas sudah ditentukan. Sang juara sudah dilantik sebelum peluit wasit disemprit.

Tapi Persibo menyelamatkan kita semua, menyelamatkan sepak bola dari rangkaian mala.

Persibo memberi cermin besar kepada kita tentang bopeng sepak bola yang menghalalkan segala cara. Tapi, Persibo juga meriwayatkan seperca asa tentang sebuah etos: keringat harus bercucuran sebelum mendekap kemenangan, aksi satu-dua di pertahanan lawan, dan kejelian seorang bertopi pet di luar lapangan.

Saya tak hendak berlebihan, tapi bayangkanlah tugas Persibo seperti tugas mahaberat untuk lepas dan terbebas dari skenario-skenario. Sebuah misi yang majenun: menghadirkan keadilan di lapangan bola.

Sebuah misi yang aneh, tentu saja. Seperti Don Quixote di kisah Cervantes yang masyhur itu. Seorang bau tanah dan petani kelewat lugu yang dengan gagah berani bermain dengan imajinasi: memimpikan keadilan, memimpikan perubahan. Don Quixote dan Sancho berkelana. Nama pertama menjadi kesatria, nama kedua menjadi pendamping setia. Mereka berperang melawan raksasa yang sejatinya hanya sebuah kincir angin. Gila. Konyol.

Tapi, kita kemudian tahu, kisah itu menyadarkan manusia bahwa selalu ada yang masih konsisten merawat kebajikan di tengah rimbun penyelewengan.

Begitulah Persibo mungkin bisa diilustrasikan. Tim ini tidak dibekingi orang berpengalaman macam Vigit Waluyo yang ada di kubu Deltras Sidoarjo. Kemenangan tim ini juga tak pernah disambut sujud syukur seorang petinggi PSSI. Sebaliknya, Persibo justru berkali-kali dicurangi.

Saya hampir putus asa saat menyaksikan perjuangan Persibo di babak delapan besar yang digelar di Sidoarjo. Persibo dihajar habis-habisan oleh wasit, dihukum tiga penalti yang aneh dan mengada-ada.

Melawan Persidafon Dafonsoro, selama 90 menit Persibo dilimbur ketidakadilan. Gol Perry Sahkolie dianulir wasit. Kiper Persibo Heri Prasetyo ditampar pemain Persidafon, tapi wasit diam saja. Puncaknya, pada menit ke-76, Persidafon mendapat hadiah penalti. Padahal, ribuan orang sore itu melihat dengan jelas bahwa Patrick Wanggai, yang berduel dengan Slamet Sampurno, terjatuh di luar kotak penalti. Pelanggaran juga masih bisa didebatkan karena dua pemain itu sama-sama terjengkang saat berduel di udara.

Kala bersua dengan Deltras, Persibo sempat unggul 1-0 saat pertandingan baru saja dimulai. Namun, setelah itu wasit kian menggila. Ini jelas-jelas sebuah rekayasa yang terus-terang. Kongkalikong yang terang benderang. Persibo akhirnya takluk lewat dua penalti aneh yang dieksekusi oleh Fahmi Amiruddin.

Dari pinggir lapangan pelatih Persibo Sartono Anwar marah besar. “Sama bangsa sendiri saja seperti ini,” protesnya ke pengawas pertandingan. Sang sasaran protes hanya tersenyum simpul sambil menepuk bahu Sartono.

“Wasit kurang ajar. Deltras diperkuat 14 orang, bagaimana bisa menang coba?” kata Manajer Persibo Taufiq Risnendar.

Siapa saja yang mengikuti perkembangan sepak bola Indonesia, pasti dibuat terheran-heran dengan kemenangan Deltras. Berbagai kemenangan Deltras diiringi penalti-penalti aneh. Total ada 15 penalti yang mengiringi perjalanan Deltras, tiga di antaranya didapat saat babak penentuan delapan besar. Kompas menulis, “Percayalah, ’tangan ajaib’ selalu menyertai Deltras.”

Dengan nada masygul, Kompas juga menulis, “…dia (Fery Aman Saragih, kapten Deltras) lebih sering tertangkap ’terjatuh’ di kotak penalti, bahkan ketika sedang tidak bertabrakan dengan lawan.”

Saya mengronik sejumlah berita pertandingan Deltras, dan yang ada isinya cuma protes pihak musuh tentang hukuman penalti. Saya kutipkan satu saja di sini komentar dari Manajer PSIS Setyo Agung Nugroho, “Persiapan untuk menghadapi pertandingan ini, terasa sia-sia. Kami bukannya kalah dari segi teknik, tapi justru oleh faktor nonteknis. Dua penalti mengalahkan kami.” PSIS ditaklukkan Deltras lewat dua gol penalti Wahyu Gunawan menit ke-21 dan Satyo Husodo menit ke-64.

Karena itu, saat lolos ke babak final dan berjumpa lagi dengan Deltras di Solo, rasa gemas saya kian meluap-luap. Bagi sebagian Boromania, penggemar Persibo, babak final bukan urusan menggenggam medali, tapi keinginan membikin malu Deltras.

Tak mengherankan, begitu pemain Deltras memasuki Stadion Manahan, Solo, ribuan Boromania kompak menyanyikan lagu, “Selamat datang, raja penalti. Selamat datang, raja penalti.” Koor itu baru berhenti beberapa menit kemudian saat barisan pemain Persibo menjejakkan kaki di lapangan.

* * *

Dalam konteks ini, Persibo menghadapi ketidakpastian sekaligus kepastian. Ketidakpastian sebagai hakikat sepak bola yang mengandaikan 90 menit penuh debar dan gemetar. Kepastian sebagai akibat dari skenario mafia yang sudah tersusun rapi seperti ilmu pasti.

Rangkaian keculasan itulah yang membuat misi Persibo nyaris tak masuk akal. Persibo adalah tim di luar “skenario”. “Apa boleh buat, sejarah sepak bola Indonesia masih dalam tahap itu. Saya siap kecewa,” ujar Sartono dalam sebuah wawancara dengan Sohirin dari Koran Tempo. Sartono tahu, sepak bola Indonesia sudah lama mati sebagai olah raga.

Namun, misi gila itu berada di pundak yang tepat. Jejeran pemain penuh disiplin dengan permainan terskema yang dipimpin Victor da Silva dan M. Irfan. Barisan penyerang yang rajin macam Busari dan Perry Sahkolie. Penguasa sayap, Abel Cielo, yang tak kenal lelah menyisir lapangan. Tembok tangguh yang dikawal Slamet Sampurno dan dijaga Heri Prasetyo. Dan, tentu saja seorang bertopi pet di luar lapangan: Sartono Anwar.

Pada akhirnya, hidup selalu memberi ruang baru bagi imajinasi cemerlang. Nasib manusia memang tak sempurna, tapi keteguhan memberi akhir cerita yang berbeda. Sejarah menunjukkan bahwa tak selamanya yang culas bisa mendekap tampuk kuasa. Uang tetap tak bisa bermain sepak bola.

Skenario itu patah: Persibo Bojonegoro jadi juara.