Persibo, Oranje Sang Juara Sejati

Persibo Bojonegoro adalah panser seorang pelatih bernama Sartono Anwar. Tak ada yang meragukan, bahwa Persibo adalah juara sejati tahun ini. Keberhasilan mereka tanpa diiringi kontroversi, dan bahkan menyodorkan harapan: bahwa sepakbola tetaplah sebuah permainan dengan sekian kemungkinan. Dan kemungkinan-kemungkinan itulah, sesuatu yang seharusnya tak bisa diramalkan dan diintervensi, yang membuat pertandingan sepakbola begitu indah.

Hasil akhir sebuah pertandingan sepakbola adalah bagian dari keindahan teori chaos. Ketidakteraturan: karena memang setiap tim, setiap pemain, setiap pelatih, berhak memperjuangkan kemenangan hingga peluit panjang terdengar. Sementara itu, para pendukung menanti, berteriak, memberikan semangat, dengan dada berdebar. Para penjudi yang sudah kadung mempertaruhkan sejumlah duit berharap-harap cemas, tim jagoan mereka tak amblas.

Anak-anak Laskar Angling Dharma itu berjuang dengan meyakini diktum ketidakteraturan itu. Mereka tidak diperhitungkan. Dan perjuangan mereka menjadi begitu heroik, ketika keyakinan dan perjuangan itu berhadapan dengan keputusan-keputusan ‘aneh’ pengadil di lapangan.

Selama babak delapan besar Liga Divisi Utama, Persibo Bojonegoro menjadi tim yang paling sial: dihukum tiga tendangan penalti melawan dua tim yang berbeda. Kekalahan Persibo dari Deltras Sidoarjo di Babak 8 Besar begitu menyakitkan, hingga sang manajer pun hanya bisa bertamsil: ‘bagaimana bisa menang jika 11 pemain Persibo berhadapan dengan 14 pemain’.

Di babak grand final di Solo, mereka kembali berhadapan dengan Deltras Sidoarjo. Dan, anak-anak itu seperti ingin menunjukkan, bahwa merekalah yang menentukan nasib mereka sendiri. Mereka seperti ingin menerjemahkan kata-kata Gabriel Batistuta: ‘sekalipun wasit berpihak kepada lawan kami, tapi jika kami bisa mencetak gol lebih banyak, maka kamilah yang menang’.

Anak-anak Persibo, sebuah kesebelasan dari sebuah kota kecil, tak ubahnya Der Panzer. Berjalan pasti. Menderu, menerjang-terjang, dan membuat kewalahan lawan. Spanduk para suporter berkibar ditiup angin: Liga Super Harga Mati.

Mulanya, kesialan tampaknya masih akan jadi milik Persibo, ketika sebuah gol di babak ekstra dianulir wasit. Serangan mereka yang menderu dikandaskan oleh tiupan peluit wasit tiga menit lebih cepat dari waktu yang seharusnya.

Tak ada seorang pun menyukai adu penalti. Ada yang bilang, ini tak ubahnya undian nasib yang tak adil. Namun, bagi anak-anak Persibo, adu penalti justru meneguhkan kembali keyakinan: hasil akhir sepakbola adalah ketidakteraturan. Kini pertarungan zonder intervensi siapapun: hanya seorang penendang berhadapan dengan seorang kiper. Hasil akhir yang adil hanya ditentukan oleh keduanya. Dan, kita tahu, malam itu siapa yang mengangkat trofi di Stadion Manahan.

Persibo: tim yang selalu sial mendapat hukuman penalti, akhirnya menang melalui adu tendangan penalti.

Maka, kita menyambut kembalinya tim berwarna oranye dari Jawa Timur di kancah Liga Super Indonesia. Persekabpas Pasuruan, sebuah tim oranye, pernah menjadi pembunuh raksasa di kasta tertinggi Liga Indonesia. Kini Persibo Bojonegoro akan meneruskan tradisi itu. Selamat datang Persibo. (wir/beritajatim.com)