Resep Gusnul Yakin Antar Persibo Bojonegoro Juara Divisi I

Keras, tapi Selalu Komunikatif
Tangan dingin Gusnul Yakin mengantarkan Persibo Bojonegoro menjuarai kompetisi Divisi I PSSI musim 2007. Sukses itu menambah deretan prestasi Gusnul selama berkarir sebagai pelatih.

Konsistensi Gusnul Yakin berkiprah di dunia sepak bola tidak perlu diragukan lagi. Sejak kecil, dia sudah memilih menghabiskan waktu bermain dengan mengolah si kulit bundar. Menapak usia senja, pria berusia 50 tahun itu masih memiliki semangat membara untuk terus bergelut dengan sepak bola.

Dengan pilihan itu, pria kelahiran Malang tersebut memiliki segudang pengalaman dalam tim yang berbeda, baik sebagai pemain maupun pelatih. Selama bermain, dia memperkuat lima klub. Sedangkan saat melatih, dia telah menangani sembilan tim.

Rentetan kerja keras Gusnul itu membuahkan prestasi yang patut diacungi jempol. Sebagai pemain, dia turut mengantarkan Warna Agung Jakarta menjadi juara Galatama edisi pertama pada 1979. Dasar bermental juara, ketika menjadi pelatih, dia sukses membawa Arema Malang juara Galatama 1992.

Yang paling baru adalah ketika dia mengantarkan Persibo Bojonegoro menjadi yang terbaik dalam kompetisi Divisi I PSSI musim 2007 pada 10 September lalu.

Tidak hanya itu. Gusnul juga sosok pelatih yang memiliki prestasi unik. Tercatat, dia berhasil membawa tiga tim berbeda secara berurutan naik kasta dari Divisi I ke Divisi Utama. Pada 2004, dia mengentaskan Persiba Balikpapan ke Divisi Utama Liga Indonesia (Ligina). Setahun berikutnya, dia mengatrol Persiter Ternate. Pada musim 2007, dia mengangkat Persibo ke Divisi Utama. “Saya merasa bahwa pencapaian prestasi tersebut adalah keberuntungan,” tuturnya.

Dengan torehan prestasi yang cukup banyak tersebut, sulit untuk dibilang hanya sebuah keberuntungan. Dia lantas menjelaskan lebih detail soal cara dan gaya dirinya melatih. “Kunci saya mencapai prestasi seperti bersama Persibo adalah keseriusan dalam menangani tim. Saya selalu keras dalam memimpin latihan,” tutur anak kesembilan dari 12 bersaudara itu.

Salah satu yang ditekankan adalah soal kedisiplinan pemain. Dia tidak akan pilih-pilih dalam bersikap antara pemain lokal maupun asing. Antara pemain bintang dan tidak. Seluruh pemain yang ada dalam tim harus sama-sama bekerja keras untuk menjadi starter dalam tim. Karena itu, tantangan yang paling berat sebagai pelatih adalah ketegasan dalam menghadapi pemain yang cenderung nakal.

“Saya sadar betul konsekuensi menjadi pelatih. Tidak sedikit pemain yang bersikap bertentangan dengan pelatih. Tapi, bagi saya, itu adalah tantangan. Kalau terus diajak komunikasi dan akhirnya mau mengerti, ada kepuasan tersendiri,” ujarnya.

“Kalau memang susah, tidak ada ampun bagi pemain yang melanggar kedisiplinan. Pemain bintang sekalipun akan saya parkir dalam sebuah pertandingan. Bahkan, saya tidak akan memberikan kesempatan untuk bergabung latihan,” imbuhnya.

Namun, Gusnul bukanlah karakter orang yang tidak bisa membedakan kondisi. Salah satu penopang kesuksesannya adalah kemampuan dalam membangun komunikasi di luar rutinitas program latihan. Dia memang keras dalam memimpin latihan. Tetapi, itu akan berbalik dalam kondisi biasa. Bisa dibilang, pola kepelatihannya itu keras, tapi tidak kasar.

“Saya selalu berusaha membangun komunikasi setara dengan pemain untuk berbagi ide saat di luar latihan. Saya tidak selalu memikirkan berhubungan dengan pemain harus sebagai pelatih. Seperti ketika ada tayangan sepak bola, kami mengobrol biasa tentang sepak bola. Pemain Persibo pernah juga saya ajak makan bersama di rumah,” urainya.

Kenyataan itu diamini Aris Budi Prasetyo, pemain Persik Kediri. Dia pernah menjadi anak asuh Gusnul saat memperkuat Arema dan Pupuk Kaltim. Saudara kandung pebola voli Dwi Sari Iswaningsih itu mengatakan bahwa Gusnul adalah sosok pelatih yang dinilai pemain kolot karena tidak banyak bicara. “Dia adalah pelatih berkarakter keras dan tidak pilih-pilih dalam bersikap kepada pemain. Waktu dia pindah ke Pupuk Kaltim dari Arema, saya memilih mengikuti karena hal itu,” ucapnya.

Dalam jalinan komunikasi tersebut, pelatih yang berposisi sebagai gelandang saat masih bermain sering menyusupkan nasihat-nasihat kepada anak asuhnya untuk terus meningkatkan kualitas. “Sepak bola kita memang belum bisa dibilang memuaskan. Tetapi, saya optimistis, sepak bola nasional ke depan akan semakin baik. Karena itu, mereka harus bekerja keras untuk terus meningkatkan kemampuan agar ketika masa itu tiba mereka tidak ketinggalan,” terangnya.

“Saya gambarkan seperti gaya latihan tim-tim Eropa. Seperti tidak ada perbedaan antara berlatih dan bermain. Jadi, itu salah satu yang harus ditiru pemain kita agar kalau mencetak gol itu betul-betul gol dengan skenario, tidak hanya keberuntungan,” tegasnya.

Dia juga tipe pelatih yang tidak suka membawa gerbong pemain dari klub lama yang dipegang untuk berpindah klub. Kalaupun ada pemain yang ingin turut menyertai kepindahannya, mereka harus dengan proses seleksi yang sama dengan pemain lain. Bahkan, dia juga tidak ragu menjelaskan kepada pemain yang ingin ikut dengannya bahwa berlatih bersama pelatih berbeda-beda bisa menambah pengalaman untuk meniti karir menjadi pelatih. (akhmad efendi)
(sumber : Indopos)

No comments yet.

Leave a Reply