Sartono Anwar, 35 Tahun Bertahan di Sepak Bola Indonesia

Pernah Dapati Transaksi Skor Antarmanajer di Depan Mata
Tidak banyak pelatih senior yang eksis di persepak­bolaan Indonesia. Tapi, Sartono Anwar mampu me­lakoninya selama 35 tahun.

“Sepak bola Indonesia menjadi tempat jutaan orang untuk menggantungkan hidup. Jadi, itu jangan dirusak!” kata pelatih Persibo Bojonegoro Sartono Anwar. Gaya bicara pelatih yang selalu menggunakan topi pet saat timnya bertanding tersebut memang selalu bersemangat ketika menceritakan sepak bola Indonesia.

Sartono tidak asal bicara soal sepak bola Indonesia yang kian buruk dari tahun ke tahun. “Meski ada pembaruan, hal itu seperti lelucon belaka. Perubahan tersebut diciptakan dengan dalih membuat lebih baik, padahal tidak sama sekali,” ucap bapak tujuh anak itu.

Pengalaman terjun di dunia kepelatihan sejak 1975 tidak perlu diragukan lagi. Sartono memulai karir kepelatihannya di PSIS Semarang. Nah, ketika kali pertama melatih, ada rasa ragu dalam diri mantan pemain PSIS Semarang, Persema Malang, dan Persib Bandung itu.

“Apalagi, saat itu administrasi lisensi kepelatihan belum seperti sekarang. Yang mau melatih asal punya kemampuan dipersilakan,” tutur kakek dua cucu itu.

Nah, pada periode 1970-1980-an yang merusak kompetisi sepakbola Indonesia adalah para outsider. “Para penjudi yang gila bola itulah yang saya sebut outsider,” ujar Sartono.

Para outsider tersebut akan melakukan apa pun demi memenangi pertaruhan. Apalagi, saat itu judi kupon juga mempertaruhkan skor dan kemenangan tim sepak bola dalam dan luar negeri.

Para outsider tersebut menyuap wasit hingga pemain. “Wasit diservis dengan berbagai hal. Uang, motor, dan wanita diberikan oleh para petaruh. Begitu juga pemain,” tutur ayah pesepak bola Persib Nova Arianto tersebut.

Sartono membeberkan, kiper dan bek adalah posisi yang paling sering di­sogok para penjudi itu. “Mantan pemain saya pernah mengakui hal tersebut. Dia mengaku menerima sejumlah uang untuk bermain buruk,” ujar Sartono. Ketika ditanya lebih lanjut soal pemain itu, Sartono enggan menyebut nama.

Di sisi lain, untuk kondisi kompetisi sepak bola saat ini justru dirusak oleh “orang dalam” kompetisi sendiri. “Sekarang suap-menyuap lebih edan dan lebih vulgar. Ironisnya, yang melakukan itu adalah manajer klub sendiri,” bebernya.

Manajer kerap menyuap wasit dan perangkat pertandingan. Mereka diberikan fasilitas yang luar biasa. Di antaranya, uang, penginapan, bahkan wanita.

Bahkan, dia pernah mendapati transaksi skor antarmanajer secara langsung. “Katanya, tim kita bermain imbang. Mana buktinya?” tutur Sartono menirukan ucapan salah seorang manajer tersebut.

Parahnya, Sartono beberapa kali mendapati hal itu. Karena itu, pria kelahiran 30 September 1947 tersebut menginstruksi anak asuhnya untuk bermain sempurna.

Menurut Sartono, dengan bermain tanpa cela, wasit akan sulit memberikan keputusan yang berat sebelah. “Toh, saat wasit bermain mata dengan salah seorang manajer, itu pasti terlihat jelas oleh penonton,” paparnya. (*/c8/diq/DIAR CANDRA, Sidoarjo)