Sartono Anwar Pantang Kambing Hitamkan Pemain

Copa IndonesiaPelatih yang satu ini patut dijadikan contoh baik bagi para pelatih lain. Tenang dan berwibawa adalah pembawaan pria tinggi besar yang telah mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk sepakbola. Kalah dan menang selalu disikapi dengan sportivitas, tanpa emosi atau pun anarki.

Itulah Sartono Anwar. Pelatih kelahiran Semarang, 30 September 1947 itu sepertinya patut dikedepankan sebagai teladan pelatih sepakbola. Bahkan pelatih Sriwijaya FC Palembang Rahmad Darmawan menaruh respek pada Sartono yang pernah mengantarkan PSIS Semarang menjadi juara Perserikatan 1987.

Dengan tangan dinginnya, berbagai macam prestasi baik sebagai pemain dan pelatih telah diraih oleh ayahanda Nova Arianto (Persib Bandung) ini. Namun semua itu tidak pernah membuat Sartono jumawa.

Begitu juga dengan keberhasilan tim besutannya saat ini Persibo Bojonegoro, yang menjadi satu-satunya tim Divisi Utama yang lolos ke babak 8 Besar Copa Dji Sam Soe Indonesia 2008/2009. Sartono menilai, keberhasilan Persibo ini berkat kerja keras pemainnya serta kebersamaan yang sangat kental di antara pemain, pelatih, dan pengurus. Resep itulah yang membuat tim dari kota kecil di Jawa Timur itu, mampu menggusur dua tim Liga Super, Arema FC Malang dan Pelita Jaya Jawa Barat.

“Sepakbola itu adalah permainan kolektif. Tanpa ada kebersamaan dan kerja keras, mustahil kemenangan bakal diraih. Itulah yang selalu saya tanamkan kepada para pemain. Meski tim ini tidak memiliki pemain bintang, tetapi kami punya semangat dan kebersamaan yang selalu menjadi senjata di setiap pertandingan,” ujar Sartono.

Sayangnya, Persibo harus bertemu juara bertahan Sriwijaya FC di 8 Besar. Laskar Angling Darmo memang sempat memberi perlawanan sampai akhirnya gawang mereka lima gol dibobol pasukan Rahmad.

Tak ada rona kecewa atau pun marah di wajah Sartono setelah menyaksikan timnya dihajar tuan rumah 0-5. Ia tetap tenang sambil memberikan selamat dan rasa terima kasihnya kepada para pemain. Dengan tenang pula ia tetap mengikuti acara temu dengan wartawan.

“Saya rasa para pemain telah bermain maksimal sepanjang pertandingan. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk marah. Dalam sepakbola, kalah atau menang itu adalah hal yang biasa. Kami bermain cukup bagus, tetapi ternyata Sriwijaya FC bermain lebih bagus lagi,” urainya.

Satu lagi yang menjadi tabu bagi Sartono. Ia tidak pernah dan tidak akan menjadikan pemain sebagai kambing hitam dalam sebuah kekalahan. Menurutnya, pelatih yang baik adalah pelatih yang bertanggung jawab dan tidak menyalahkan orang lain, atau bahkan pemain, bila timnya kalah.

“Sepanjang karier saya, hanya sekali saya protes pemberitaan wartawan sebuah surat kabar di Jawa Timur. Dalam pemberitaan itu, saya dikatakan kecewa dengan penampilan pemain saat tim saya kalah. Padahal itu tidak pernah saya ucapkan. Setelah saya ketemu dengan wartawannya, ia kemudian minta maaf, karena memang kutipan tersebut dibuat tanpa wawancara dengan saya,” papar Sartono.(dss)