Sartono: Sepakbola Indonesia Bobrok

Secara terang-terangan, pelatih Persibo Bojonegoro Sartono Anwar berbicara panjang lebar tentang perkembangan sepakbola di tanah air. Bahkan, ia curhat panjang lebar mengenai suap-menyuap di sepakbola Indonesia.

Menurut Sartono, sejak sebelum tahun 1990-an, sebenarnya fenomena itu sudah terjadi. Tetapi, konteksnya berbeda. Pada saat itu, para petaruh yang menyuap pemain, agar menang atau kalah dalam pertandingan.

Sebab, dengan begitu, para petaruh yang memenangkan pertandingan dan klub selalu bisa dikalahkan. Tetapi, para pemain ternyata bisa juga merugikan petaruh. Sebab, pemain banyak yang melakukan manuver ganda.

“Di satu sisi pemain juga meminta imbalan kepada lawan petaruh yang sudah terlebih dahulu melakukan deal,” kata Sartono.

Sehingga, posisi suap berganti pada manajemen yang menyuap kepada wasit atau yang lainnya. Kondisi seperti itu berjalan cukup lama dan selalu terulang.

“Tetapi, belakangan ini sudah berganti lagi. Perangkat pertandingan yang meminta kepada manajemen, untuk dimenangkan atau dikalahkan,” sambungnya.

Sartono menerangkan, kebobrokan sepakbola nasional disebabkan oleh orang-orang di dunia sepakbola sendiri.

“Makanya, harus ada yang berani mendobrak dan memperbaharuinya. Walaupun, penentangan pasti akan ada di mana-mana,” terangnya.

Dengan kondisi belakangan ini, pihaknya tidak takut kepada siapa pun karena benar dan demi kelangsungan sepakbola nasional yang mundur secara prestasi.

“Selama ini kami sangat kecewa, karena uang rakyat dihambur-hamburkan seperti itu. Apalagi, untuk membeli kemenangan dan juga menghindari keburukan,” lanjutnya.

Bagaimana tidak dihamburkan, para pemilik klub ingin menutupi kesalahannya memakai uang negara untuk membentuk klub yang diinginkannya sendiri.

Saat cita-cita tersebut tidak tercapai, maka ia berusaha menutupi kelemahannya dengan berbagai cara. Termasuk membeli kemenangan dari pengadil pertandingan.

“Itu sudah menjadi rahasia umum, tetapi jarang sekali yang berani mengungkapnya,” tambahnya.

Dengan berbicara keras dan mengkritik pedas seperti itu, Sartono mengaku tidak gentar dengan ancaman apa pun.

“Kalau dipanggil PSSI, maka kami akan mendatanginya. Kita lihat saja waktunya,” sambungnya. (gk-25/goal.com)