Selamat Datang di Liga Paling ’’Bergengsi’’

”WAH, iki wayahe menit-menit penalti (Wah,ini saatnya menit-menit penalti),” seorang penonton di tribune VIP Stadion Gajaya, Malang, berseloroh.


Pertandingan memasuki menit ke-75.Persema Malang meladeni tim promosi Persibo Bojonegoro di Stadion Gajayana,Sabtu (9/10). Celetukan itu mendapat respons dari penonton lain; ’’Durung, paling dilut engkas (Belum, mungkin sebentar lagi)”. Maksud selorohan penonton itu sudah cukup jelas. Biasanya, di Liga Indonesia, tuan rumah mendapatkan kado penalti dari wasit jika gagal mencetak gol.Memang tak semua pertandingan, tapi sudah cukup membuat penonton, wartawan, atau bahkan mungkin rumput lapangan hafal dengan tradisi itu. Saya cuma tersenyum dan kembali konsentrasi ke pertandingan yang membosankan.

Memasuki injury time, saya masih belum percaya dengan ungkapan ’’menit-menit penalti’’.Namun, yang terjadi pada injury timemembuat saya tertegun. Surprise! Wasit Iis Isya Permana benar-benar memberikan tendangan penalti untuk Persema. Penonton pun riuh rendah. Senang dengan penalti itu atau bosan dengan tradisi yang sudah dihafal, saya tak tahu pasti.Yang jelas, itu pemberian penalti yang buruk di pertandingan yang sangat buruk. Selain handball Hamzah masih diragukan, wasit juga memberikan tendangan ketika masa injury time sudah terlewat semenit. Lebih mengejutkan lagi ketika memasuki ruangan pers, Pelatih Sartono Anwar tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Amarahnya meluap.Dia langsung buka kartu soal oknum wasit yang mematok nominal Rp10 juta sebelum pertandingan.

Tujuannya tentu untuk menguntungkan tim Persibo. Sebuah aib besar bagi korps wasit. Kalau ucapan Sartono benar,saya salut dan mendukung keberanian serta keterbukaan Persibo dalam menguak keculasan sang pengadil.Persoalan seperti ini sebenarnya sudah basi di sepak bola dalam negeri. Namun, ternyata kebobrokan seperti ini terus disirami dan tumbuh subur. PSSI juga tidak bereaksi. Untuk sepak bola seperti inikah PSSI meminta anggaran Rp1,3 triliun? Pe r t a n – dingan di Stadion Gajayana malam itu sungguh sebuah jawaban atas kekalahan timnas Indonesia 1-7 saat melawan Uruguay.

Pemain sudah terbiasa memenangkan pertandingan dengan segala cara, terbiasa bertanding di kompetisi yang mempermainkan offside dan pelanggaran untuk menguntungkan satu pihak.Kompetisi dengan tradisi ’’menit-menit penalti’’. Inilah kompetisi paling ’’bergengsi”itu.Sebuah tim merasa gengsi menerima dan mengakui kekalahan. Fenomena itu sekaligus sebagai salah satu alasan munculnya Liga Primer Indonesia (LPI). Namun maaf, saya belum tertarik bicara LPI sebelum ada hasil nyata. Sementara ini, bagi saya, LPI tak lebih dari pengingkaran tanggung jawab dari tim-tim yang mengalami kemerosotan. Ingin selamat secara instan dan menghindari cacian. Itu tak beda dengan meminta sebuah penalti kepada wasit.

Kekecewaan di Stadion Gajayana sekaligus sebagai ucapan selamat datang untuk Persibo yang baru mencicipi Indonesia Super League (ISL) musim ini.Terlepas dari kekalahan menyakitkan, saya memberikan respek pada perjuangan Victor a Silva dkk di lapangan. Mereka yang lebih pantas berpredikat tuan rumah dibanding pemilik kandang. Persema? Saya lebih suka menyebutnya tim tua yang tak pernah dewasa. Selalu ada keputusan-keputusan yang mengganjal.Termasuk musim ini, dengan masuknya Pelatih Timo Scheunemann.

Tanpa mengurangi respek kepada Timo, keputusan mengambil dia sebagai pelatih terbilang sebuah risiko besar untuk tim yang berambisi di papan atas.(*/seputar-indonesia.com)

Kukuh Setyawan
Wartawan SINDO