Terancam Gagal Gelar Leg Ke-2

Copa IndonesiaPanpel Persibo terancam gagal menggelar pertandingan leg kedua Copa Indonesia, antara Persibo vs Sriwijaya FC di Stadion Letjend Soedirman, 15 Juni nanti. Hal ini dikarenakan adanya agenda kampanye pilpres yang bergulir mulai 2 Juni.

Kubu Persibo mengaku rugi bila izin pertandingan leg kedua babak 8 besar Copa Dji Sam Soe Indonesia kontra Sriwijaya FC pada 15 Juni dibekukan aparat kepolisian setempat. Pasalnya, laga ini sangat krusial guna menangguk keuntungan finansial dari penonton Bojonegoro. Apalagi satu-satunya kontestan dari Divisi Utama ini butuh dana guna membayar perpanjangan kontrak pemain dan biaya operasional tim.

”Kami masih berpatokan pada kesepakatan awal dengan Polres Bojonegoro bahwa partai kandang masih dapat izin. Tapi, kami tak tahu lagi bila jadwal kampanye pilpres dimajukan sehingga izin dibekukan,” tutur H. Imam Sarjono, asisten manajer tim Persibo.

Menurut Sarjono, jika berkaca dari kekacauan pergelaran ISL lalu saat kampanye pemilu legislatif, peluang pembekuan izin juga terbuka. Tapi, manajemen Persibo tetap akan berupaya keras pertandingan melawan pasukan Rahmad Darmawan tetap bisa digelar di Bojonegoro. ”Kami belum berpikir cari stadion alternatif lain. Pengalaman kami saat bermain di Sidoarjo atau Madiun, antusiasme suporter datang sangat minim. Padahal, kami butuh pemasukan untuk biaya pertandingan dan tim perlu dukungan mereka sebagai pemain ke-12,” kata Sarjono.

Seharusnya, lanjut Sarjono, BLI segera mengantisipasi jika kekhawatiran kesulitan izin itu benar-benar terjadi. ”Rasanya tidak adil bila leg pertama kami main di kandang orang, sementara saat dapat jatah kandang harus hijrah ke tempat lain. BLI harus segera mengambil sikap yang bisa memberi keadilan bagi semua peserta delapan besar,” ucapnya.

Dialog intensif dengan pihak keamanan tetap dilakukan Badan Liga Indonesia (BLI). Melalui pendekatan secara dialogis, BLI berharap pertandingan Copa Dji Sam Soe Indonesia bisa tetap diizinkan dilaksanakan di kota-kota yang memang seharusnya menjadi tuan rumah pertandingan.

Bisa Berujung Sentralisasi
BLI mengambil sikap tegas menyikapi kemungkinan terburuk. “Bila tetap tidak bisa digelar, kami harus memindahkan tempat pertandingan. Ini merupakan alternatif terbaik. Bila akhirnya lebih dari separuh klub tidak diizinkan menjadi tuan rumah, kemungkinan besar turnamen diselesaikan dengan sistem sentralisasi. Bila itu keputusannya, kami akan memanggil dan membicarakan lebih dulu dengan klub,” papar Joko Driyono, Direktur Kompetisi BLI.

Meski demikian, BLI tetap berharap tim-tim tuan rumah bisa menggelar pertandingan di kandang sendiri. Apalagi, sepak bola sesungguhnya bisa mencairkan ketegangan setelah masyarakat disibukkan dengan kampanye pilpres.

Pihak pengelola dua stadion di Malang mengaku siap menampung tim-tim yang terpaksa mengungsi karena izin pertandingan tak keluar. Itu pun dengan catatan kota yang dinilai paling aman di Jawa Timur tersebut tak ikut terkena imbas larangan pertandingan sepanjang pemilu presiden. “Kami membuka diri untuk tim-tim yang mau memakai Stadion Kanjuruhan untuk dipakai sebagai markas di CDSSI,”sebut M. Muklis, panpel stadion. (bnc/wdi)