Tiga Punggawa Persibo Belum Disahkan

Tiga pemain Persibo Bojonegoro yaitu penjaga gawang Wahyudi, gelandang Friyan Eko Yuwono dan Kim Kang Hyun belum mendapatkan pengesahan dari Badan Liga Indonesia (BLI).

“Masih ada tiga pemain Persibo yang belum mendapatkan pengesahan dari BLI,” kata Asisten Manajer Bidang Teknis Persibo Bojonegoro, Imam Sardjono di Bojonegoro, Minggu.

Dia menjelaskan, kalau Kim Kang Hyun, belum bisa disahkan karena Internasional Transfer Certificate (ITC) dari negaranya belum turun. Sedangkan kiper Wahyudi dan Friyan Eko Yuwono, sebelumnya sudah didaftarkan dengan melengkapi persyaratan lewat online.

Hanya saja, karena belum mendapatkan pengesahan, pelatih tidak berani menurunkan kedua pemain tersebut dalam laga melawan Persema, Malang yang berakhir dengan kekalahan Persibo 0 – 1, lewat penalti.

Sedangkan Eugene Dadi warga negara Perancis yang berposisi striker disahkan pukul 16.00 WIB, menjelang laga melawan Persema Malang.

Belum turunnya pengesahan tiga pemain tersebut akan ditanyakan langsung kepada BLI, sekaligus menyiapkan kembali berkas persyaratan ketiga pemain yang sudah didaftarkan lewat sistem online.

“Kami akan mengirimkan perwakilan untuk menanyakan langsung ke BLI,” ungkapnya.

Yang jelas, lanjutnya, kalau tiga pemain tersebut disahkan, jumlah pemain Persibo ada 23 pemain. Dengan jumlah itu dianggap ideal dalam mengarungi kompetisi SLI 2010-2011.

Sedangkan penambahan jumlah pemain bisa dilakukan di putaran kedua.

Paling tidak sebelum batas akhir pendaftaran 15 Oktober, Persibo sudah menyelesaikan seluruh pendaftaran para pemainnya.

“Penambahan pemain bisa mengambil pemain Persibo U – 21,” katanya menambahkan. (ant/row/bola.net)

18 Responses to “Tiga Punggawa Persibo Belum Disahkan”

  1. khadot cah miri
    October 11, 2010 at 8:31 am #

    siji yo

    [Reply]

  2. amnesia
    October 11, 2010 at 8:44 am #

    2nd

    [Reply]

  3. telon13+
    October 11, 2010 at 8:49 am #

    telon

    [Reply]

  4. afel boro~aremania sodara
    October 11, 2010 at 9:35 am #

    ayo persibo klahkan arema.buat smw aremania dkanjuruhan trbungkam dgn kmenanganmu
    eugene dadi in saatnya untuk tnjukan kkuatanmu…
    km bkn striker yg remeh

    [Reply]

  5. borobanjar
    October 11, 2010 at 10:01 am #

    Moga menang lawan arema ……………..

    [Reply]

  6. bro kmpong dayu
    October 11, 2010 at 10:07 am #

    Lupakan keklahan kmaren. . . Skrang satnya bangkit n tnjukan bahwa persibo mampu brbuat bnyak d ISL. . . Kpan pemanin persibo mulai latihan. . . . ?

    [Reply]

  7. Arrey
    October 11, 2010 at 10:07 am #

    Boromania haus kemenangan .

    [Reply]

  8. amnesia
    October 11, 2010 at 10:11 am #

    Selamat Datang di Liga Paling ’’Bergengsi’’

    ”WAH, iki wayahe menit-menit penalti (Wah,ini saatnya menit-menit penalti),” seorang penonton di tribune VIP Stadion Gajaya, Malang, berseloroh.

    Pertandingan memasuki menit ke-75.Persema Malang meladeni tim promosi Persibo Bojonegoro di Stadion Gajayana,Sabtu (9/10). Celetukan itu mendapat respons dari penonton lain; ’’Durung, paling dilut engkas (Belum, mungkin sebentar lagi)”. Maksud selorohan penonton itu sudah cukup jelas. Biasanya, di Liga Indonesia, tuan rumah mendapatkan kado penalti dari wasit jika gagal mencetak gol.Memang tak semua pertandingan, tapi sudah cukup membuat penonton, wartawan, atau bahkan mungkin rumput lapangan hafal dengan tradisi itu. Saya cuma tersenyum dan kembali konsentrasi ke pertandingan yang membosankan.

    Memasuki injury time, saya masih belum percaya dengan ungkapan ’’menit-menit penalti’’.Namun, yang terjadi pada injury timemembuat saya tertegun. Surprise! Wasit Iis Isya Permana benar-benar memberikan tendangan penalti untuk Persema. Penonton pun riuh rendah. Senang dengan penalti itu atau bosan dengan tradisi yang sudah dihafal, saya tak tahu pasti.Yang jelas, itu pemberian penalti yang buruk di pertandingan yang sangat buruk. Selain handball Hamzah masih diragukan, wasit juga memberikan tendangan ketika masa injury time sudah terlewat semenit. Lebih mengejutkan lagi ketika memasuki ruangan pers, Pelatih Sartono Anwar tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Amarahnya meluap.Dia langsung buka kartu soal oknum wasit yang mematok nominal Rp10 juta sebelum pertandingan.

    Tujuannya tentu untuk menguntungkan tim Persibo. Sebuah aib besar bagi korps wasit. Kalau ucapan Sartono benar,saya salut dan mendukung keberanian serta keterbukaan Persibo dalam menguak keculasan sang pengadil.Persoalan seperti ini sebenarnya sudah basi di sepak bola dalam negeri. Namun, ternyata kebobrokan seperti ini terus disirami dan tumbuh subur. PSSI juga tidak bereaksi. Untuk sepak bola seperti inikah PSSI meminta anggaran Rp1,3 triliun? Pe r t a n – dingan di Stadion Gajayana malam itu sungguh sebuah jawaban atas kekalahan timnas Indonesia 1-7 saat melawan Uruguay.

    Pemain sudah terbiasa memenangkan pertandingan dengan segala cara, terbiasa bertanding di kompetisi yang mempermainkan offside dan pelanggaran untuk menguntungkan satu pihak.Kompetisi dengan tradisi ’’menit-menit penalti’’. Inilah kompetisi paling ’’bergengsi”itu.Sebuah tim merasa gengsi menerima dan mengakui kekalahan. Fenomena itu sekaligus sebagai salah satu alasan munculnya Liga Primer Indonesia (LPI). Namun maaf, saya belum tertarik bicara LPI sebelum ada hasil nyata. Sementara ini, bagi saya, LPI tak lebih dari pengingkaran tanggung jawab dari tim-tim yang mengalami kemerosotan. Ingin selamat secara instan dan menghindari cacian. Itu tak beda dengan meminta sebuah penalti kepada wasit.

    Kekecewaan di Stadion Gajayana sekaligus sebagai ucapan selamat datang untuk Persibo yang baru mencicipi Indonesia Super League (ISL) musim ini.Terlepas dari kekalahan menyakitkan, saya memberikan respek pada perjuangan Victor a Silva dkk di lapangan. Mereka yang lebih pantas berpredikat tuan rumah dibanding pemilik kandang. Persema? Saya lebih suka menyebutnya tim tua yang tak pernah dewasa. Selalu ada keputusan-keputusan yang mengganjal.Termasuk musim ini, dengan masuknya Pelatih Timo Scheunemann.

    Tanpa mengurangi respek kepada Timo, keputusan mengambil dia sebagai pelatih terbilang sebuah risiko besar untuk tim yang berambisi di papan atas.(*) (Kukuh Setyawan . sindo)

    [Reply]

    amnesia Reply:

    pertamax

    [Reply]

    fphoer Reply:

    wiih tulisane kok podo karo perasaane wong-wong seng neng Gajayana (tribun timur sebelah selatan)

    [Reply]

    amnesia Reply:

    itu kita kan…

    rejz Reply:

    koreksi bo, sing handsball victor da silva
    sing sabar ae yo hihihihihihi.. [untung aq gak melok ndelok langsung, iso2 tambah syok]

    [Reply]

    FANZ Reply:

    Langsung ora iso muleh koyo aq wkwkwk

    fphoer Reply:

    Lha gk muleh kecantol sopo???? 😛
    ngerti ngunu turu neng kosanku pisan… ben tambah rame suarane orang mendengkur
    hahaha ;P

    amnesia Reply:

    iyo bener seng hands ball victor
    tapi lho wasite memutuskan handsball oleh hamzah

    wong wasit jenius kok

  9. Boro juventini
    October 11, 2010 at 11:05 am #

    Memang victor sing handsball,tapi wsit nunjuk hamzah sing handsball..aneh kan..

    [Reply]

  10. The Gunners Boro Interisti
    October 11, 2010 at 12:23 pm #

    ^_^
    Gmn mo cepet surat pengesahnnya…………

    lawong uang pelicinnya lom di ksh je………..!!!

    Huwahahahahaaa…………

    [Reply]

  11. Pakdhe ÖziL
    October 11, 2010 at 1:12 pm #

    BudhaLLL

    [Reply]

Leave a Reply