Tunggu Komando The Jakmania

Barisan kelompok suporter yang protes dengan kebijakan PSSI bertambah. Boromania, salah satu kelompok suporter Persibo Bojonegoro, menyatakan kecewa dengan sikap PSSI yang meniadakan degradasi di divisi utama tahun ini.

Kelompok suporter berkostum kebesaran oranye ini siap berangkat ke Jakarta untuk mendemo PSSI bersama dengan kelompok suporter lainnya. “Kalau kapan kami berangkat ke Jakarta, itu masih menunggu koordinasi dengan suporter lain dan juga The Jakmania sebagai koordinator aksi ini,” kata Yayak, wakil ketua DPP Boromania kepada wartawan koran ini kemarin.

Menurut dia, keinginan untuk bersama-sama ke Jakarta itu merupakan salah satu bentuk kesepakatan dalam pertemuan antar kelompok suporter seluruh Indonesia di Malang beberapa waktu lalu. Pria berambut gondrong ini menambahkan, agenda demo ke PSSI yang pertama adalah memrotes kebijakan PSSI yang meniadakan degradasi pada musim kompetisi saat ini. Selain itu, juga mempertanyakan pemberian kuota tambahan bagi tim promosi dari divisi I ke divisi utama dari dua tim menjadi empat tim tiap grupnya. “Ini kan sudah tidak sesuai dengan kesepakatan awal yang tercantum dalam manual liga,” tuturnya.

Yayak menyatakan, dirinya sangat tidak setuju naiknya empat tim promosi divisi I dari setiap grup ke divisi utama. Jika tahu seperti ini sebelumnya, kata dia, maka seluruh komponen tim Persibo diajak tidak terlalu memaksa masuk dua besar untuk mengamankan posisi.

“Dan hal seperti ini yang sering membuat kami tak habis pikir dengan PSSI,” imbuhnya.

Dengan keputusan PSSI menambah kuota tim promosi, tutur Yayak, biaya, tenaga, dan pikiran yang dikeluarkan segenap elemen Persibo untuk meraih posisi dua besar kini serasa tak ada artinya lagi.

“Nilai dasar kompetisi telah dihilangkan PSSI,” katanya.

Saat protes ke PSSI nanti, lanjut dia, para kelompok suporter juga akan memrotes masih bercokolnya Nurdin Halid sebagai ketua umum PSSI. Padahal, yang bersangkutan sedang menjalani hukuman pidana. “Kalau orang sudah nggak beretika memimpin ya jadinya akan seperti ini, carut marut,” ujarnya.

Jika kondisi seperti saat ini dibiarkan terus, kata Yayak, maka Boromania khawatir perkembangan sepak bola di Indonesia akan terhambat. Akibatnya, Indonesia tidak bisa berprestasi di tingkat dunia. “Bandingkan saja dengan negara lain. Mengapa sepak bolanya maju? Ya karena mereka konsisten dengan kompetisi, tidak mau coba-coba,” katanya.
(sumber: Radar Bojonegoro / Website Pemkab Bojonegoro)