Turunkan Pemain Lapis Kedua

Liga Jatim: Deltras vs Persibo
Persibo Bojonegoro mengambil sikap berani di Liga Jatim Piala Gubernur 2010. Setelah merasa dikerjai wasit pada pertandingan melawan Persikubar Kutai Barat di Gelora Delta, Sidoarjo, pada Senin malam lalu (30/8), Victor da Silva dkk kembali ke Bojonegoro kemarin pagi (31/9) pukul 10.15 WIB.

Tindakan tersebut merupakan bentuk kekecewaan Laskar Angling Dharma, julukan Persibo, kepada Panpel Liga Jatim Piala Gubernur 2010. Apalagi, malam ini (1/9) mereka masih menyisakan satu pertandingan pemungkas melawan tuan rumah Delta Putra Sidoarjo (Deltras).

“Ini kompetisi apa-apaan. Katanya Liga Jatim, kok keputusannya malah membela tim di luar Jatim. Seharusnya sebagai tim Jatim dibela, bukan dianiaya,” keluh pelatih Persibo Sartono Anwar kemarin (31/8).

Baginya, jika Persibo mundur, sebetulnya itu sah-sah saja. Hingga kemarin sore, polemik bakal batalnya bertanding Persibo melawan Deltras cukup menguat. Apalagi komentar sejumlah pemain cenderung pesimistis.

Gelandang Persibo M. Irfan mengatakan sangat kecewa terhadap perlakuan wasit. “Kalau tim mundur, saya sangat setuju. Wasit betul-betul tidak fair,” terang pemain berkepala plontos itu.

Tidak hanya pemain dan pelatih, manajemen Persibo juga sangat terpukul dengan sikap pengadil lapangan yang tidak menjunjung tinggi nilai sportivitas tersebut. Manajer Persibo Taufik Risnendar menyatakan, kompetisi Liga Jatim Piala Gubernur 2010 kali ini sudah kehilangan kehormatan akibat keputusan pengadil lapangan yang buruk.

“Percuma ikut turnamen tapi malah dirugikan terus,” kata manajer Persibo, Letkol (Inf) Taufik Risnendar.

Dia menuturkan sejak awal Persibo tidak minta untuk dimenangkan. Namun, hanya minta agar semua bisa fairplay termasuk wasit di lapangan.

“Sampai saat ini, tidak ada bukti bahwa wasit dibayar atau yang lainnya. Namun, unsur-unsur wasit dikondisikan untuk memenangkan satu tim sudah jelas terlihat. Itu terjadi saat kami melawan Persikubar lalu,” ungkap pria berpangkat letkol tersebut.

Taufik menyayangkan even yang seharusnya sebagai media pemanasan bagi klub-klub Jatim sebelum berlaga di Divisi Utama dan Indonesia Super League itu akhirnya tidak menghasilkan apa-apa. “Tujuan awal even ini kan sudah jelas. Hanya sebagai ajang pemanasan sebelum turun di Divisi Utama dan ISL. Tapi, mengapa karena kepentingan menjadi juara lebih besar sehingga mengorbankan semangat fair play,” ujar Taufik.

Dia pun berharap semua pihak yang terlibat dalam even tahunan tersebut peka melihat masalah kepemimpinan wasit itu. “Termasuk Haruna Soemitro (ketua Pengprov PSSI Jawa Timur, Red). Dia juga tahu kalau kami sering dikerjai oleh wasit. Sayang, saat kami dikerjai oleh wasit, dia tidak berada di tempat,” keluh Taufik.

Kendati telah dikecewakan oleh wasit, Taufik menyatakan bahwa Persibo tidak akan tobat untuk turun lapangan di Sidoarjo. Dia tetap akan mengirimkan para penggawa Laskar Angling Dharma bertanding melawan Deltras.

Di sisi lain, Sartono Anwar, pelatih Persibo Bojonegoro, telanjur kecewa dengan sikap wasit yang tidak adil kala mereka melawan Persikubar. Dia pun berencana tidak menurunkan kekuatan penuh dalam pertandingan melawan Deltras nanti.

“Saya tahu, kekuatan kami sudah banyak tereduksi saat melawan Persikubar. Meski begitu, kami pasti ke sana (Sidoarjo, Red) dan bertanding. Namun, ada banyak rotasi yang saya lakukan terhadap tim ini,” ungkap ayah Nova Arianto, defender Persib Bandung, tersebut.

Persibo terpaksa tidak bisa menurunkan tim inti mereka. Rencananya, yang tampil dalam pertandingan tersebut hanya para pemain lapis kedua. Apalagi, sebelumnya dua pemain pilar mereka -M. Irfan dan Samsul Arif- terganjal kartu merah.

Meski begitu, Sartono berharap kualitas wasit yang memimpin pertandingan nanti lebih fair. Tujuannya, pertandingan tersebut tidak kehilangan roh sportivitas. (dra/dik/c6/diq/jpnn)